Pelatihan Digital Marketing Bersama BIG | Nextup ID

Pelatihan Digital Marketing Bersama Badan Informasi Geospasial: Ketika Kompetensi Digital Menjadi Bagian dari Pengembangan Profesional

Ada satu perubahan yang menarik dalam dunia kerja hari ini.

Dulu, kemampuan digital marketing mungkin dianggap sebagai kompetensi yang hanya dibutuhkan oleh tim marketing.

Sekarang batas tersebut semakin kabur.

Kemampuan memahami audiens, membuat konten, membangun engagement, mengelola kanal digital, dan mengoptimalkan komunikasi digital semakin relevan bagi berbagai organisasi.

Termasuk instansi pemerintah.

Sebab organisasi tidak hanya bekerja untuk menjalankan proses internal. Ada informasi yang perlu disampaikan, program yang perlu dikomunikasikan, layanan yang perlu dikenalkan, serta pengetahuan yang perlu dibuat lebih mudah dipahami masyarakat.

Di titik inilah digital marketing tidak lagi sekadar berbicara tentang menjual produk.

Digital marketing juga berbicara tentang:

visibility, communication, engagement, information, dan impact.

Perspektif tersebut menjadi salah satu konteks dalam kegiatan Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) yang diselenggarakan pada 15 September 2026 bersama Nextup ID.

Kegiatan tersebut berlangsung di kantor Badan Informasi Geospasial di Cibinong, Bogor, pada pukul 10.00–13.00 WIB, dengan narasumber Muhamad Arif Rahmat, Certified Trainer | Life Coach | Asesor.

Bagi Nextup ID, kegiatan tersebut bukan hanya sebuah agenda training.

Ia merupakan bagian dari upaya mempertemukan kompetensi manusia dengan kebutuhan organisasi di tengah perubahan digital.

Mengenal Badan Informasi Geospasial

Sebelum membicarakan pelatihannya, penting memahami konteks organisasi tempat kegiatan ini berlangsung.

Badan Informasi Geospasial (BIG) merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 128 Tahun 2022, BIG mempunyai tugas menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang informasi geospasial yang meliputi informasi geospasial dasar, informasi geospasial tematik, dan infrastruktur informasi geospasial.

Ruang lingkup tersebut menunjukkan bahwa BIG berada dalam bidang yang sangat berkaitan dengan data, informasi, teknologi, serta pemanfaatan informasi geospasial untuk berbagai kebutuhan.

BIG juga memiliki fungsi antara lain dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis, penyusunan norma dan standar, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta dukungan terhadap penyelenggaraan informasi geospasial.

Konteks tersebut membuat pengembangan kompetensi digital menjadi bagian yang relevan dalam lingkungan organisasi modern.

Karena teknologi tidak hanya mengubah bagaimana pekerjaan dilakukan.

Teknologi juga mengubah bagaimana informasi dikomunikasikan kepada publik.

Mengapa Instansi Pemerintah Membutuhkan Kompetensi Digital Marketing?

Istilah digital marketing terkadang langsung diasosiasikan dengan iklan, penjualan, marketplace, dan promosi produk.

Padahal, konsepnya jauh lebih luas.

Bayangkan sebuah instansi memiliki informasi yang sangat penting.

Informasinya benar.

Datanya lengkap.

Materinya kredibel.

Tetapi cara menyampaikannya terlalu teknis.

Bahasanya sulit dipahami.

Visualnya kurang menarik.

Tidak dikemas sesuai karakteristik platform digital.

Akibatnya, informasi yang sebenarnya bernilai tinggi tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya.

Di sinilah kompetensi digital menjadi penting.

Informasi yang baik membutuhkan cara komunikasi yang baik agar dapat memberikan impact.

Digital marketing memberikan berbagai prinsip yang dapat membantu organisasi memahami:

  • siapa audiensnya;
  • apa kebutuhan mereka;
  • bagaimana membuat pesan;
  • bagaimana memilih kanal;
  • bagaimana membuat konten;
  • bagaimana membangun engagement;
  • dan bagaimana mengukur respons audiens.

Dengan demikian, digital marketing dapat dipahami sebagai bagian dari strategi komunikasi digital, bukan semata-mata strategi penjualan.

Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi dan Geospasial

Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi dan Geospasial

Dari Content Creation ke Content Strategy

Salah satu perbedaan penting dalam dunia digital adalah antara membuat konten dan memiliki strategi konten.

Membuat konten menjawab:

“Apa yang akan kita posting hari ini?”

Content strategy menjawab:

“Mengapa konten ini dibuat, untuk siapa, pesan apa yang ingin disampaikan, melalui kanal apa, dan perubahan apa yang ingin kita hasilkan?”

Perbedaannya terlihat sederhana.

Tetapi dampaknya besar.

Tanpa strategi, organisasi dapat menghasilkan banyak konten tetapi tidak memiliki arah yang jelas.

Dengan strategi, setiap konten memiliki konteks.

Publikasi kegiatan dapat diarahkan untuk membangun awareness.

Konten edukasi dapat membantu masyarakat memahami informasi.

Video dapat membuat topik teknis lebih mudah dipahami.

Infografis dapat menyederhanakan data.

Storytelling dapat membuat informasi lebih dekat dengan audiens.

Inilah mengapa content strategy menjadi salah satu kompetensi penting dalam ekosistem digital.

Pelatihan Digital Marketing Bersama BIG pada 15 September 2026

Pada 15 September 2026, Nextup ID berkesempatan menyelenggarakan kegiatan pelatihan digital marketing bersama Badan Informasi Geospasial.

Publikasi kegiatan Nextup ID mencantumkan tiga fokus utama dalam konteks pelatihan tersebut:

  • Content & Social Media
  • Audience & Engagement
  • Digital Optimization

Kegiatan berlangsung di kantor Badan Informasi Geospasial, Jalan Raya Bogor Km 46, Kawasan Sains dan Teknologi Dr. (H.C) Ir. H. Soekarno, Cibinong, Bogor.

Ketiga fokus tersebut sebenarnya menggambarkan perjalanan yang cukup lengkap.

Karena digital marketing tidak berhenti pada pertanyaan:

“Apa yang kita posting?”

Tetapi bergerak menjadi:

“Siapa yang ingin kita jangkau?”

Lalu:

“Bagaimana mereka berinteraksi dengan konten kita?”

Dan akhirnya:

“Bagaimana aktivitas digital tersebut dapat dioptimalkan?”

1. Content & Social Media: Bukan Sekadar Posting

Media sosial telah menjadi salah satu ruang utama komunikasi digital.

Namun memiliki akun media sosial tidak otomatis berarti organisasi sudah memiliki strategi digital.

Yang lebih penting adalah bagaimana kanal tersebut digunakan.

Baca Juga:  Penerapan AI dalam Pemasaran Konten: Revolusi Kreativitas dan Efisiensi

Konten perlu memiliki tujuan.

Misalnya:

Konten Edukasi

Digunakan untuk menjelaskan informasi yang kompleks dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Konten Informasi

Digunakan untuk menyampaikan program, kegiatan, layanan, atau informasi penting.

Konten Storytelling

Digunakan untuk membangun konteks dan kedekatan dengan audiens.

Konten Visual

Digunakan untuk membuat informasi lebih mudah dipahami.

Konten Engagement

Dirancang untuk mendorong audiens memberikan respons atau berinteraksi.

Dengan pendekatan tersebut, media sosial tidak lagi dipandang sebagai tempat menyimpan dokumentasi.

Media sosial menjadi kanal komunikasi strategis.

2. Audience & Engagement: Mengenal Siapa yang Diajak Berkomunikasi

Konten yang bagus belum tentu efektif jika ditujukan kepada audiens yang salah.

Karena itu, pemahaman terhadap audiens menjadi bagian penting dari digital marketing.

Pertanyaan sederhananya:

Siapa yang ingin kita jangkau?

Jawabannya mungkin tidak selalu “masyarakat”.

Masyarakat sangat luas.

Ada:

  • mahasiswa;
  • akademisi;
  • profesional;
  • pemerintah daerah;
  • pelaku usaha;
  • komunitas;
  • peneliti;
  • media;
  • praktisi;
  • atau masyarakat umum.

Masing-masing memiliki kebutuhan informasi yang berbeda.

Konten yang menarik bagi seorang profesional belum tentu menarik bagi masyarakat umum.

Begitu pula informasi yang cocok untuk audiens teknis belum tentu mudah dipahami oleh audiens nonteknis.

Karena itu, audience understanding menjadi fondasi komunikasi digital.

Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi dan Geospasial

Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi dan Geospasial

Engagement Bukan Sekadar Jumlah Like

Ini adalah insight penting lainnya.

Banyak organisasi mengukur performa media sosial hanya dari jumlah:

  • likes;
  • followers;
  • views.

Padahal angka tersebut tidak selalu menjelaskan dampak sebenarnya.

Misalnya sebuah konten memperoleh banyak views.

Pertanyaan berikutnya:

Apakah audiens memahami pesannya?

Apakah mereka mengunjungi kanal lain?

Apakah mereka membaca informasi lebih lanjut?

Apakah mereka memberikan pertanyaan?

Apakah mereka membagikan informasi?

Apakah konten tersebut membantu membangun awareness?

Dengan demikian, engagement perlu dipahami lebih luas.

Engagement adalah tentang kualitas hubungan antara konten dan audiens, bukan sekadar angka interaksi.

3. Digital Optimization: Setelah Konten Dipublikasikan, Apa Berikutnya?

Digital marketing yang matang tidak berhenti setelah tombol publish ditekan.

Justru setelah dipublikasikan, organisasi mulai memperoleh data.

Konten mana yang mendapatkan perhatian?

Format apa yang paling efektif?

Topik apa yang paling banyak dicari?

Kapan audiens aktif?

Pesan seperti apa yang menghasilkan respons?

Dari sini proses optimasi dapat dimulai.

Prinsipnya sederhana:

Create → Publish → Measure → Learn → Optimize.

Bukan:

Create → Publish → Forget.

Perbedaan tersebut merupakan salah satu perubahan pola pikir penting dalam digital marketing.

Digital Marketing Membutuhkan Data dan Kreativitas

Ada anggapan bahwa digital marketing hanya membutuhkan kreativitas.

Tidak sepenuhnya benar.

Kreativitas penting.

Tetapi kreativitas tanpa data dapat membuat strategi berjalan berdasarkan asumsi.

Sebaliknya, data tanpa kreativitas dapat menghasilkan komunikasi yang terlalu kaku.

Karena itu, digital marketing membutuhkan kombinasi:

Creative Thinking + Audience Insight + Data + Execution.

Kreativitas membantu menciptakan pesan.

Pemahaman audiens membantu menentukan relevansi.

Data membantu mengevaluasi.

Eksekusi mengubah semuanya menjadi aktivitas nyata.

Mengapa Pelatihan Digital Marketing Perlu Berbasis Praktik?

Salah satu tantangan dalam program training adalah transfer pembelajaran.

Peserta dapat memahami teori.

Tetapi apakah mereka dapat menerapkannya?

Misalnya peserta memahami:

“Konten harus dibuat berdasarkan target audience.”

Pertanyaan berikutnya:

Siapa target audience organisasi kita?

Kemudian:

Apa kebutuhan mereka?

Lalu:

Konten apa yang relevan?

Dan:

Bagaimana mengukur apakah konten tersebut berhasil?

Di sinilah pembelajaran praktis menjadi penting.

Pelatihan yang baik tidak hanya memberikan definisi.

Ia memberikan cara berpikir, framework, contoh, dan ruang untuk menerapkan.

Dari Skill Digital ke Organizational Capability

Pelatihan digital marketing sebenarnya dapat memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan kemampuan membuat konten.

Jika kompetensi tersebut diterapkan secara konsisten, organisasi dapat membangun kapabilitas baru.

Misalnya:

Content capability

Organisasi mampu menghasilkan konten yang lebih terstruktur.

Audience capability

Organisasi lebih memahami karakter audiens.

Digital communication capability

Organisasi mampu menyampaikan informasi melalui kanal digital secara lebih efektif.

Analytics capability

Organisasi mulai menggunakan data untuk mengevaluasi komunikasi.

Inilah perbedaan antara mengikuti pelatihan dan membangun kapabilitas organisasi.

Tantangan Digital Marketing di Organisasi

Setiap organisasi memiliki tantangan yang berbeda.

Beberapa tantangan yang umum antara lain:

Terlalu Fokus pada Dokumentasi

Setiap kegiatan dibuat menjadi berita atau foto kegiatan, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan audiens.

Konten Tidak Konsisten

Publikasi dilakukan ketika ada kegiatan, kemudian berhenti ketika tidak ada agenda.

Pesan Terlalu Teknis

Informasi yang sebenarnya penting disampaikan dengan bahasa yang hanya mudah dipahami oleh kalangan tertentu.

Tidak Ada Content Planning

Konten dibuat secara spontan tanpa kalender atau tema komunikasi.

Tidak Menggunakan Data

Evaluasi dilakukan berdasarkan perasaan, bukan performa.

Tidak Ada Eksperimen

Organisasi menggunakan format yang sama meskipun hasilnya belum optimal.

Masalah tersebut bukan semata-mata persoalan individu.

Sering kali merupakan persoalan kompetensi, proses, dan sistem kerja.

Peran Training dalam Menghadapi Perubahan Digital

Ketika teknologi berubah cepat, organisasi membutuhkan kemampuan untuk terus belajar.

Training menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat proses tersebut.

Namun training yang efektif sebaiknya menjawab kebutuhan organisasi.

Bukan sekadar mengikuti tren.

Misalnya, ketika AI sedang berkembang, pertanyaannya bukan:

“Apakah kita perlu belajar AI?”

Pertanyaan yang lebih strategis adalah:

“Bagian pekerjaan mana yang dapat ditingkatkan dengan AI?”

Begitu pula digital marketing.

Baca Juga:  Pelatihan UMKM di Kota Depok: Meningkatkan Kapasitas dan Daya Saing Usaha

Pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah kita perlu belajar digital marketing?”

Tetapi:

“Kompetensi digital apa yang dibutuhkan organisasi untuk mencapai tujuan komunikasinya?”

Perubahan pertanyaan ini membuat program training lebih relevan.

Mengapa In-House Training Dapat Menjadi Pilihan?

Untuk organisasi dan perusahaan, salah satu keuntungan in-house training adalah materi dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan internal.

Contohnya, training digital marketing dapat menggunakan:

  • kanal digital organisasi;
  • contoh konten organisasi;
  • target audiens organisasi;
  • masalah komunikasi aktual;
  • serta data yang relevan dan dapat digunakan peserta.

Dengan demikian, peserta tidak hanya belajar menggunakan contoh generik.

Mereka dapat belajar melalui konteks yang lebih dekat dengan pekerjaannya.

Pendekatan ini juga membuka peluang untuk mengintegrasikan training dengan:

  • mentoring;
  • coaching;
  • workshop;
  • project assignment;
  • dan evaluasi.

Nextup ID: Training sebagai Proses, Bukan Sekadar Event

Bagi Nextup ID, sebuah kegiatan pelatihan memiliki nilai ketika pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan.

Karena itu, positioning Nextup ID tidak berhenti sebagai penyedia materi training.

Nextup ID menempatkan diri sebagai partner pengembangan people dan business melalui peningkatan kompetensi, penerapan pengetahuan, pendampingan, dan continuous improvement.

Pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai kebutuhan:

Corporate Training

Program pengembangan kompetensi untuk perusahaan.

In-House Training

Pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Workshop

Pembelajaran yang lebih intensif dan berorientasi praktik.

Mentoring

Pendampingan untuk membantu peserta menerapkan pengetahuan.

Coaching

Pengembangan kemampuan individu melalui proses refleksi dan eksplorasi solusi.

Consulting

Pendekatan berbasis analisis untuk kebutuhan organisasi atau bisnis tertentu.

Pendampingan UMKM

Program yang menghubungkan pembelajaran dengan penerapan bisnis.

Dengan demikian, kebutuhan organisasi tidak harus selalu diselesaikan dengan satu bentuk intervensi.

Pelajaran dari Pelatihan Digital Marketing Bersama BIG

Kegiatan bersama Badan Informasi Geospasial memberikan satu refleksi penting.

Kompetensi digital bukan hanya kebutuhan perusahaan komersial.

Instansi dan organisasi juga membutuhkan kemampuan digital untuk:

  • berkomunikasi;
  • menyampaikan informasi;
  • membangun engagement;
  • meningkatkan visibility;
  • mengoptimalkan kanal digital;
  • dan menciptakan impact.

Dalam konteks BIG, hal tersebut menarik karena organisasi ini memiliki mandat yang sangat erat dengan informasi geospasial.

BIG sendiri menjelaskan bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan informasi geospasial adalah mendorong penggunaannya dalam penyelenggaraan pemerintahan dan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Artinya, tantangannya bukan hanya memastikan informasi tersedia.

Ada tantangan lain:

Bagaimana informasi tersebut dapat dipahami, ditemukan, dan dimanfaatkan oleh audiens yang tepat?

Di sinilah kompetensi komunikasi digital menjadi relevan.

Digital Marketing Bukan Hanya untuk Menjual

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Digital marketing sering dianggap identik dengan:

jualan → iklan → transaksi.

Padahal konsepnya lebih luas.

Dalam organisasi nonkomersial maupun pemerintahan, prinsip digital marketing dapat digunakan untuk:

Information

Membuat informasi lebih mudah ditemukan.

Education

Mengedukasi audiens.

Awareness

Meningkatkan kesadaran terhadap isu atau program.

Engagement

Membangun interaksi.

Trust

Membangun kredibilitas.

Impact

Mendorong pemanfaatan informasi atau layanan.

Jadi, digital marketing tidak selalu berakhir pada transaksi.

Dalam konteks organisasi, hasil akhirnya dapat berupa informasi yang lebih tersampaikan dan engagement yang lebih bermakna.

Kompetensi Digital Harus Terus Diperbarui

Dunia digital tidak berhenti.

Platform berubah.

Algoritma berubah.

Format konten berubah.

Perilaku audiens berubah.

Teknologi AI berkembang.

Karena itu, satu kali pelatihan tidak dapat menjadi akhir dari proses pembelajaran.

Pelatihan seharusnya menjadi bagian dari continuous learning.

Hari ini mungkin fokus pada social media.

Besok pada analytics.

Berikutnya pada AI.

Kemudian pada content strategy.

Kemudian pada digital optimization.

Organisasi yang mampu membangun budaya belajar akan lebih siap menghadapi perubahan.

Bagaimana Perusahaan dan Instansi Merancang Pelatihan Digital Marketing yang Efektif?

Bagi HR, L&D, pimpinan organisasi, maupun pengelola program pengembangan kompetensi, ada beberapa pertanyaan penting sebelum menentukan program.

Pertama: Apa masalah yang ingin diselesaikan?

Jangan memulai dari judul training.

Mulailah dari masalah.

Kedua: Siapa pesertanya?

Digital marketing untuk staf komunikasi tentu berbeda dengan digital marketing untuk business owner.

Ketiga: Kompetensi apa yang perlu dibangun?

Apakah content creation?

Strategi?

Analytics?

Social media?

SEO?

Atau kombinasi?

Keempat: Apa output yang diharapkan?

Peserta memahami konsep?

Mampu membuat konten?

Mampu menyusun strategi?

Mampu menganalisis performa?

Kelima: Bagaimana implementasinya?

Apakah terdapat assignment?

Mentoring?

Coaching?

Monitoring?

Keenam: Bagaimana mengukur keberhasilan?

Tanpa indikator, organisasi akan kesulitan mengetahui apakah training benar-benar memberikan perubahan.

Training, Mentoring, dan Coaching: Mana yang Dibutuhkan?

Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan training.

Jika masalahnya adalah kurangnya pengetahuan, training mungkin tepat.

Jika peserta sudah memiliki pengetahuan tetapi kesulitan menerapkannya, mentoring dapat membantu.

Jika individu membutuhkan proses refleksi untuk menemukan solusi atas tantangan pekerjaannya, coaching dapat menjadi pilihan.

Jika organisasi membutuhkan analisis dan rekomendasi terhadap persoalan tertentu, consulting lebih relevan.

Karena itu, pendekatan pengembangan kompetensi sebaiknya tidak dimulai dari:

“Kami punya program training apa?”

Tetapi:

“Apa kebutuhan organisasi dan intervensi pembelajaran seperti apa yang paling tepat?”

Membangun Learning Culture di Organisasi

Pada akhirnya, satu kegiatan training hanya merupakan satu titik dalam perjalanan pembelajaran.

Baca Juga:  Pelajari Fitur Page dan Marketplace di Facebook

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya.

Apakah peserta berdiskusi?

Apakah mereka mencoba?

Apakah atasan memberikan dukungan?

Apakah organisasi memberikan ruang eksperimen?

Apakah ada feedback?

Apakah keberhasilan dan kegagalan dibahas?

Apakah pembelajaran dibagikan kepada tim?

Jika jawabannya ya, training dapat berkembang menjadi bagian dari learning culture.

Dan budaya belajar merupakan aset organisasi yang jauh lebih panjang umur dibandingkan satu sesi pelatihan.

Nextup ID sebagai Partner Pengembangan Kompetensi Digital

Kegiatan Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi Geospasial pada 15 September 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan pengembangan kompetensi dapat diterjemahkan ke dalam program pembelajaran yang relevan dengan perubahan lingkungan kerja. Publikasi Nextup ID menempatkan kegiatan tersebut dalam konteks content & social media, audience & engagement, serta digital optimization.

Bagi Nextup ID, pengalaman tersebut memperkuat satu prinsip:

Training yang baik bukan sekadar membuat peserta tahu. Training yang baik membantu peserta menjadi lebih mampu.

Dan ketika dibutuhkan, proses tersebut dapat dilanjutkan melalui mentoring, coaching, consulting, atau pendampingan.

Pendekatan ini dapat diterapkan untuk berbagai organisasi yang membutuhkan:

  • Digital Marketing Training
  • Social Media Marketing
  • Content Strategy
  • Content Creation
  • Digital Communication
  • Digital Optimization
  • AI for Business
  • Branding
  • Sales & Marketing
  • Leadership
  • Productivity
  • Entrepreneurship
  • dan pengembangan kompetensi lainnya.

Kesimpulan: Digital Transformation Dimulai dari Kompetensi Manusia

Transformasi digital sering dibicarakan dalam konteks teknologi.

Platform baru.

Software baru.

AI.

Data.

Automasi.

Namun ada satu komponen yang sering lebih menentukan:

manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

Tanpa kompetensi yang tepat, teknologi hanya menjadi alat.

Tanpa strategi, konten hanya menjadi publikasi.

Tanpa pemahaman audiens, komunikasi hanya menjadi penyampaian informasi.

Tanpa evaluasi, aktivitas digital sulit berkembang.

Karena itu, investasi pada kompetensi manusia tetap menjadi bagian penting dari transformasi digital.

Kegiatan Pelatihan Digital Marketing bersama Badan Informasi Geospasial pada 15 September 2026 menjadi sebuah refleksi bahwa kebutuhan kompetensi digital semakin lintas sektor.

Bukan hanya perusahaan.

Bukan hanya UMKM.

Bukan hanya tim marketing.

Tetapi juga organisasi dan instansi yang ingin memastikan informasi, komunikasi, dan layanan mereka dapat menjangkau audiens secara lebih efektif.

Pada akhirnya, digital marketing bukan sekadar tentang bagaimana sebuah organisasi terlihat di internet.

Lebih dari itu, digital marketing adalah tentang bagaimana organisasi ditemukan, dipahami, dipercaya, dan memberikan impact melalui kanal digital.

FAQ Pelatihan Digital Marketing

Apa itu pelatihan digital marketing?

Pelatihan digital marketing adalah program pengembangan kompetensi yang membahas strategi pemasaran dan komunikasi melalui kanal digital. Materinya dapat mencakup content strategy, social media, audience engagement, digital optimization, SEO, digital advertising, analytics, dan topik lain sesuai kebutuhan peserta.

Apakah digital marketing hanya diperlukan oleh perusahaan komersial?

Tidak. Prinsip digital marketing juga relevan bagi instansi, organisasi, yayasan, lembaga pendidikan, BUMN, dan institusi lain yang perlu mengelola komunikasi serta engagement dengan audiens melalui kanal digital.

Apa yang dipelajari dalam pelatihan digital marketing?

Materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Untuk program yang didokumentasikan Nextup ID bersama BIG, fokus yang dipublikasikan mencakup Content & Social Media, Audience & Engagement, serta Digital Optimization.

Mengapa pemahaman audiens penting dalam digital marketing?

Karena konten yang efektif harus relevan dengan orang yang menerimanya. Pemahaman audiens membantu organisasi menentukan pesan, format, kanal, dan pendekatan komunikasi yang lebih tepat.

Apakah pelatihan digital marketing dapat dilakukan secara in-house?

Ya. In-house training memungkinkan materi, studi kasus, latihan, dan output pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Apa perbedaan training dan mentoring?

Training berfokus pada pemberian pengetahuan dan keterampilan, sedangkan mentoring membantu peserta menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks yang lebih nyata.

Bagaimana mengukur keberhasilan pelatihan digital marketing?

Pengukuran dapat dilakukan pada beberapa tingkat, mulai dari pemahaman peserta, kemampuan praktik, penerapan di tempat kerja, hingga perubahan indikator kinerja yang relevan dengan tujuan program.

Apakah Nextup ID menyediakan pelatihan digital marketing untuk perusahaan dan instansi?

Nextup ID mengembangkan program training, workshop, mentoring, coaching, consulting, dan pendampingan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, instansi, organisasi, business owner, maupun program pengembangan UMKM.

Nextup ID: Partner Training dan Pengembangan Kompetensi

Kebutuhan setiap organisasi berbeda.

Karena itu, program pengembangan kompetensi sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan:

“Training apa yang sedang populer?”

Tetapi:

“Kompetensi apa yang dibutuhkan organisasi untuk menghadapi tantangan bisnis dan pekerjaan saat ini?”

Nextup ID membantu perusahaan, instansi, BUMN, organisasi, yayasan, CSR, dan business owner merancang program yang menghubungkan learning dengan application.

Mulai dari training, in-house training, workshop, mentoring, coaching, consulting, hingga pendampingan, pendekatan dapat disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan peserta.

Jika organisasi Anda sedang membutuhkan pelatihan digital marketing, content strategy, social media, digital communication, AI for Business, leadership, sales & marketing, atau program pengembangan kompetensi lainnya, Nextup ID dapat menjadi partner dalam merancang program tersebut.

Nextup ID — Learn. Apply. Grow.