by adminnextup | May 5, 2025 | Articles
Dalam dunia bisnis, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), istilah training bukanlah sesuatu yang asing. Hampir semua perusahaan, organisasi, hingga komunitas, memahami betapa pentingnya training dalam meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan performa individu maupun tim. Kali ini kita akan membahas secara mendalam mengenai pengertian training, kapan training dibutuhkan, tujuan dan manfaat training untuk tim, peran profesi trainer, hingga sertifikasi trainer/instruktur BNSP berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Pengertian Training
Training adalah proses sistematis yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam rangka memenuhi standar atau kualifikasi tertentu dalam pekerjaannya. Training tidak hanya fokus pada teori, melainkan juga mengasah kemampuan praktis, sehingga peserta lebih siap menghadapi situasi nyata di lingkungan kerja.
Training bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti:
- Pelatihan kelas (classroom training)
- Pelatihan lapangan (on-the-job training)
- Workshop
- Webinar
- Seminar
Dengan adanya training yang tepat, peserta diharapkan dapat menguasai keterampilan baru atau meningkatkan kompetensi yang telah dimiliki sebelumnya.
Kapan Training Dibutuhkan?
Training tidak hanya diperlukan oleh karyawan baru, tetapi juga sangat penting bagi karyawan lama dan bahkan pemimpin dalam organisasi. Berikut adalah beberapa kondisi ketika training dibutuhkan:
- Saat Onboarding Karyawan Baru Karyawan baru biasanya belum memahami prosedur, budaya perusahaan, atau alat kerja yang digunakan. Training onboarding bertujuan agar mereka lebih cepat beradaptasi dan produktif.
- Saat Terjadi Perubahan Teknologi atau Sistem Ketika perusahaan mengadopsi sistem baru, seperti software, alat produksi, atau metode kerja, training menjadi hal yang wajib agar karyawan bisa bertransisi tanpa mengurangi kualitas kerja.
- Saat Target Kinerja Tidak Tercapai Ketika tim tidak mencapai target yang ditetapkan, training menjadi salah satu solusi untuk mengidentifikasi kekurangan, lalu memberikan pengetahuan atau keterampilan tambahan yang dibutuhkan.
- Saat Melakukan Pengembangan Karir Training dibutuhkan agar individu siap menghadapi tanggung jawab baru, misalnya saat promosi jabatan.
- Saat Menyesuaikan dengan Regulasi Baru Dalam beberapa industri, adanya peraturan pemerintah baru menuntut perusahaan untuk memberikan pelatihan agar karyawannya tetap bekerja sesuai standar hukum dan keselamatan.

Training dan Sertifikasi Trainer – Nextup ID
Tujuan dan Manfaat Menyelenggarakan Training
Melaksanakan training bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah langkah strategis dalam pengembangan bisnis jangka panjang. Berikut tujuan dan manfaat dari training:
Tujuan Training:
- Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
- Mengurangi kesalahan dalam pekerjaan.
- Meningkatkan kepuasan kerja dan loyalitas karyawan.
- Menyiapkan tim menghadapi tantangan baru di masa depan.
- Membentuk kultur kerja yang adaptif dan inovatif.
Manfaat Training:
- Peningkatan Keterampilan dan Pengetahuan: Training memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengasah keahlian yang relevan dengan pekerjaannya.
- Produktivitas yang Lebih Tinggi: Tim yang terlatih cenderung lebih efisien dalam menyelesaikan pekerjaan dan menghasilkan output berkualitas.
- Adaptasi terhadap Perubahan: Dengan pelatihan yang tepat, tim lebih siap beradaptasi terhadap perubahan sistem, kebijakan, maupun pasar.
- Meningkatkan Motivasi dan Kepercayaan Diri: Karyawan yang merasa kompeten lebih percaya diri dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan tugas.
- Mengurangi Turnover Karyawan: Training yang baik menunjukkan bahwa perusahaan menghargai pertumbuhan karyawan, sehingga loyalitas meningkat.
Trainer: Sosok Penting di Balik Suksesnya Training
Profesi trainer adalah seseorang yang memiliki peran utama dalam menyampaikan materi, membimbing, serta mengembangkan keterampilan peserta training secara efektif. Seorang trainer tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi fasilitator, mentor, motivator, bahkan role model bagi peserta.
Tugas Pokok Trainer:
- Merancang program pelatihan.
- Menyampaikan materi secara interaktif.
- Memberikan bimbingan praktis.
- Menilai perkembangan peserta.
- Memberikan umpan balik konstruktif.
Kualifikasi yang Dibutuhkan oleh Trainer:
- Penguasaan materi.
- Kemampuan komunikasi efektif.
- Kemampuan membaca dinamika kelas.
- Pengalaman praktis dalam bidang terkait.
- Memiliki sertifikasi resmi sebagai bukti profesionalisme.
Profesi trainer sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, seperti:
- Pelatihan industri (industri manufaktur, pertambangan, kesehatan, perhotelan).
- Pelatihan soft skill (public speaking, kepemimpinan, negosiasi).
- Pelatihan teknis (digital marketing, data analysis, software engineering).

Training dan Sertifikasi Trainer – Nextup ID
Sertifikasi Trainer atau Instruktur
Sertifikasi Instruktur BNSP adalah pengakuan resmi atas kompetensi seorang instruktur atau trainer yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan seseorang memang kompeten secara profesional dalam bidangnya, berdasarkan standar nasional atau internasional.
Sertifikasi ini bukan hanya sekadar “sertifikat pelatihan”, tetapi bukti bahwa instruktur tersebut telah lulus uji kompetensi melalui proses asesmen ketat yang diakui oleh negara, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja.
Sertifikasi ini punya banyak kegunaan, baik untuk instruktur pribadi, perusahaan, maupun lembaga pelatihan. Berikut manfaat utamanya:
1. Pengakuan Profesional
Sertifikat dari BNSP membuktikan bahwa instruktur sudah diuji sesuai standar industri. Ini jadi pembeda yang sangat penting di dunia kerja — bukan hanya ‘mengaku bisa’, tapi terbukti kompeten.
2. Meningkatkan Kepercayaan Peserta dan Klien
Perusahaan atau peserta training lebih percaya kepada instruktur yang memiliki sertifikasi BNSP, karena tahu proses sertifikasinya tidak mudah dan sudah diverifikasi oleh asesor profesional.
3. Meningkatkan Kualitas Pelatihan
Instruktur bersertifikat BNSP dituntut memahami metode pelatihan yang sistematis, seperti: Menyusun silabus berbasis kebutuhan peserta. Menerapkan teknik penyampaian materi yang interaktif. Melakukan asesmen hasil pelatihan. Memberikan feedback dan tindak lanjut
4. Memenuhi Standar Lembaga Pelatihan dan Perusahaan
Banyak lembaga pelatihan, terutama yang sudah teregistrasi di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), hanya merekrut trainer yang memiliki sertifikat BNSP. Perusahaan juga cenderung memilih trainer bersertifikat untuk memastikan pelatihan berkualitas dan sesuai regulasi.
5. Memperluas Peluang Karir dan Jaringan
Instruktur bersertifikat BNSP memiliki nilai tambah di dunia kerja: Lebih mudah diterima sebagai pengajar di lembaga pelatihan profesional. Dapat dipercaya menangani pelatihan berskala nasional. Mendapat akses ke komunitas trainer bersertifikat, memperluas jaringan profesi.
6. Legalitas dalam Proyek Pemerintah
Untuk tender atau proyek pemerintah, sertifikat BNSP sering menjadi persyaratan mutlak bagi instruktur, apalagi di bidang yang berkaitan dengan vokasi, ketenagakerjaan, atau pengembangan SDM.

sertifikasi instruktur bnsp
Proses Sertifikasi Instruktur BNSP
Biasanya, prosesnya terdiri dari:1. Pelatihan Pra-Asesmen (kadang disebut Training of Trainer / ToT). Uji Kompetensi – Observasi. – Portofolio.- Wawancara. Verifikasi oleh Asesor dan LSP. Penerbitan Sertifikat Kompetensi oleh BNSP. Masa berlaku sertifikat ini biasanya 3 tahun dan bisa diperpanjang lewat uji ulang (RCC).
Jadi, sertifikasi instruktur BNSP adalah jaminan mutu kompetensi seorang trainer di Indonesia. Tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, sertifikasi ini juga memperkuat kredibilitas di mata peserta, perusahaan, dan lembaga pemerintah.
Agar seorang trainer memiliki pengakuan resmi atas kompetensinya, maka dibutuhkan sertifikasi yang diakui oleh negara. Di Indonesia, lembaga resmi yang berwenang untuk memberikan pengakuan ini adalah BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
Sertifikasi BNSP untuk profesi trainer biasanya mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yang mengklasifikasikan level kemampuan seseorang dari Level 1 sampai Level 9. Berikut penjelasan sertifikasi trainer dari level 3 hingga 6:
Level 3 KKNI – Operator / Asisten Trainer Level ini lebih banyak dikhususkan pada instruktur atau trainer yang berperan sebagai pelatih teknis di lapangan. Peserta di level ini diharapkan mampu:
- Menjalankan prosedur pelatihan berbasis SOP.
- Membimbing peserta secara teknis.
- Melaksanakan evaluasi proses pelatihan sederhana.
Level 4 KKNI – Trainer Pada level ini, seorang trainer diharapkan mampu:
- Merancang program pelatihan berbasis kebutuhan industri.
- Menyusun modul pelatihan sederhana.
- Menyampaikan materi dengan metode pembelajaran yang sistematis.
- Melakukan pengukuran hasil pelatihan dengan instrumen dasar.
Level 5 KKNI – Supervisor / Trainer Profesional Trainer dengan level ini memiliki tanggung jawab yang lebih besar, baik dalam manajemen program maupun evaluasi hasil pelatihan. Kemampuan yang diharapkan:
- Menyusun silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
- Melaksanakan evaluasi program dan perbaikan kurikulum.
- Membimbing peserta hingga menguasai kompetensi secara penuh.
- Berkolaborasi dalam pengembangan sistem pelatihan di organisasi.
Level 6 KKNI – Instruktur Kepala Level ini menunjukkan kualifikasi tingkat lanjut bagi seorang trainer. Mereka tidak hanya mengajar, melainkan juga:
- Mendesain kurikulum pelatihan untuk organisasi besar.
- Melakukan analisis kebutuhan pelatihan (Training Need Analysis).
- Menjadi konsultan pengembangan SDM.
- Memimpin tim trainer lainnya.
- Melakukan pengembangan instrumen evaluasi berbasis standar industri.
Training adalah bagian vital dalam pengembangan sumber daya manusia, baik di dunia bisnis, pendidikan, maupun komunitas. Dengan training yang tepat, tim menjadi lebih kompeten, produktif, dan siap menghadapi tantangan. Namun, kesuksesan sebuah training sangat dipengaruhi oleh kualitas trainer yang memfasilitasi proses pembelajaran.
Sertifikasi trainer menjadi bukti bahwa seorang trainer telah memenuhi standar nasional profesi, sehingga kompetensinya dapat diandalkan. Level sertifikasi dari BNSP (Level 3 hingga 6 KKNI) mengacu pada tingkat tanggung jawab, kemampuan menyusun kurikulum, dan strategi pengembangan SDM yang dikuasai oleh trainer.
Oleh karena itu, investasi dalam training, memilih trainer profesional bersertifikat, dan mendesain program pengembangan SDM yang berkelanjutan merupakan kunci sukses sebuah organisasi di era modern. Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih detail tentang proses mendapatkan sertifikasi trainer atau ingin berkonsultasi mengenai pengembangan training untuk tim Anda, jangan ragu untuk menghubungi Nextup ID. Kami siap membantu Anda menuju pengembangan SDM yang profesional dan berdaya saing tinggi
Muhamad Arif Rahmat, adalah seorang owner bisnis digital, finalis beberapa kompetisi bisnis tingkat Nasional, sekaligus juga trainer yang senang berbagi mengenai tips wirausaha dan digital marketing.
Klik disini untuk kenal lebih dekat
by adminnextup | May 1, 2025 | Articles
Dalam dunia bisnis yang kompetitif dan dinamis, pertumbuhan bukan hanya menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan yang mutlak. Tanpa adanya strategi pertumbuhan yang jelas, sebuah usaha akan kesulitan dalam mempertahankan keberadaannya, apalagi jika dihadapkan pada persaingan pasar yang semakin ketat dan perilaku konsumen yang cepat berubah.
Banyak pelaku bisnis yang terlalu fokus pada kegiatan operasional sehari-hari sehingga lupa untuk memikirkan langkah strategis jangka panjang. Padahal, strategi pertumbuhan sangat penting untuk memastikan bahwa bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang seiring waktu. Salah satu kerangka kerja yang telah terbukti efektif dalam merencanakan pertumbuhan bisnis adalah Ansoff Matrix.
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara praktis dan mendalam mengenai apa itu Ansoff Matrix, bagaimana cara kerjanya, contoh implementasinya dalam bisnis, serta mengapa setiap pelaku usaha — baik UMKM, startup, maupun perusahaan besar — sebaiknya memahami dan menerapkan strategi ini dalam pengembangan bisnis mereka.
Apa Itu Ansoff Matrix?
Ansoff Matrix adalah sebuah alat bantu manajemen strategis yang dikembangkan oleh Igor Ansoff, seorang ahli matematika dan ekonom Amerika kelahiran Rusia, pada tahun 1957. Matrix ini pertama kali diperkenalkan dalam artikelnya yang berjudul “Strategies for Diversification” yang diterbitkan di Harvard Business Review.
Ansoff Matrix membantu pemilik bisnis dan manajer dalam memilih arah pertumbuhan yang paling sesuai untuk bisnis mereka, berdasarkan dua elemen kunci:
- Produk — Apakah perusahaan akan menggunakan produk yang sudah ada, atau mengembangkan produk baru?
- Pasar — Apakah produk tersebut akan dipasarkan ke pasar yang sudah ada, atau ke pasar yang baru?
Dengan mengkombinasikan kedua elemen tersebut, Ansoff Matrix membagi strategi pertumbuhan menjadi empat kuadran utama yang masing-masing memiliki karakteristik, tingkat risiko, serta contoh aplikasinya sendiri.
Empat Strategi Utama dalam Ansoff Matrix
Mari kita pelajari lebih dalam keempat strategi yang ditawarkan oleh Ansoff Matrix.
1. Market Penetration (Penetrasi Pasar)
Strategi penetrasi pasar dilakukan ketika perusahaan berusaha meningkatkan volume penjualan produk yang sudah ada di pasar yang sama. Ini berarti tidak ada perubahan besar pada produk maupun target pasarnya, melainkan lebih pada bagaimana bisnis bisa meraih porsi pasar (market share) yang lebih besar.
Cara-cara umum dalam menerapkan strategi ini:
- Menawarkan diskon harga, promo, atau potongan khusus.
- Mengoptimalkan strategi pemasaran digital, seperti menggunakan iklan berbayar di media sosial.
- Meningkatkan kualitas layanan pelanggan.
- Memperluas jaringan distribusi.
Contoh nyata: Perusahaan air minum dalam kemasan melakukan strategi promosi ‘beli 2 gratis 1’ di supermarket agar pelanggan memilih produknya ketimbang produk kompetitor.
Strategi ini cenderung memiliki tingkat risiko yang rendah karena perusahaan sudah memahami produk dan pasar yang digarap, namun tetap memerlukan eksekusi yang tepat agar bisa bersaing secara efektif.

Ansoff Matrix
2. Market Development (Pengembangan Pasar)
Strategi pengembangan pasar digunakan saat perusahaan ingin menjual produk yang sudah ada ke segmen pasar baru. Ini bisa berarti memperluas wilayah geografis pemasaran, memasuki kelompok demografis baru, atau menggunakan kanal distribusi yang berbeda.
Cara-cara umum dalam menerapkan strategi ini:
- Memperluas pasar dari lokal ke nasional, atau dari nasional ke internasional.
- Menargetkan segmen usia yang berbeda.
- Mengubah saluran distribusi, misalnya dari toko fisik ke e-commerce.
Contoh nyata: Sebuah merek kopi lokal yang sebelumnya hanya menjual produk di warung kopi sekitar Jakarta, kini membuka layanan pemesanan online yang melayani seluruh Indonesia melalui marketplace dan website resmi.
Strategi ini membuka potensi pertumbuhan besar, tetapi memiliki risiko menengah, karena perusahaan harus memahami karakteristik pasar baru yang mungkin berbeda dari pasar sebelumnya.
3. Product Development (Pengembangan Produk)
Strategi pengembangan produk dilakukan ketika perusahaan memutuskan untuk menciptakan produk baru untuk pasar yang sudah ada. Pendekatan ini biasanya diambil oleh perusahaan yang ingin mempertahankan pelanggan setia dengan menawarkan lebih banyak variasi atau produk tambahan.
Cara-cara umum dalam menerapkan strategi ini:
- Melakukan inovasi produk berdasarkan umpan balik pelanggan.
- Mengembangkan produk turunan atau varian baru dari produk utama.
- Meningkatkan kualitas produk dengan fitur-fitur tambahan.
Contoh nyata: Sebuah perusahaan roti yang biasanya hanya memproduksi roti tawar meluncurkan produk roti isi dengan berbagai rasa, untuk memenuhi permintaan variasi dari pelanggan lama.
Strategi ini memerlukan biaya pengembangan produk, riset pasar, dan uji coba produk baru, namun dapat memperkuat loyalitas pelanggan dan mendorong pertumbuhan penjualan.
4. Diversification (Diversifikasi)
Diversifikasi adalah strategi paling berisiko dalam Ansoff Matrix, karena perusahaan akan memasuki pasar baru dengan produk baru yang belum pernah mereka jual sebelumnya. Namun, jika dilakukan dengan riset dan perhitungan yang tepat, diversifikasi bisa membawa potensi pertumbuhan yang sangat besar.
Jenis diversifikasi:
- Diversifikasi terkait (related diversification): produk baru masih berkaitan dengan bisnis inti.
- Diversifikasi tidak terkait (unrelated diversification): produk baru tidak memiliki hubungan dengan bisnis yang ada.
Contoh nyata: Perusahaan garmen memutuskan untuk memproduksi masker medis di masa pandemi COVID-19 — sebuah produk baru yang ditujukan untuk pasar yang sebelumnya tidak pernah disentuh.
Strategi ini memiliki tingkat risiko yang tinggi, tetapi dapat menyelamatkan perusahaan dari kejenuhan pasar dan memberikan aliran pendapatan baru.

Ansoff Matrix – Nextup ID
Mengapa Wajib Memahami Ansoff Matrix?
Setiap bisnis di berbagai level dan industri menghadapi tantangan dalam memutuskan langkah strategis terbaik untuk berkembang. Ansoff Matrix membantu dalam:
- Mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan bisnis.
- Menghindari pertumbuhan bisnis yang tidak terencana dan spekulatif.
- Membantu tim manajemen menganalisis risiko dan peluang dari setiap pilihan strategi pertumbuhan.
- Menciptakan rencana jangka panjang yang lebih realistis dan terukur.
Dengan kata lain, Ansoff Matrix memberi kerangka pikir yang rapi agar bisnis tidak sekadar ikut-ikutan tren atau meniru kompetitor, melainkan tumbuh dengan strategi yang sesuai kondisi internal dan eksternal.
Contoh Implementasi Ansoff Matrix
Mari kita lihat bagaimana beberapa perusahaan besar dan UMKM sukses menerapkan strategi Ansoff Matrix.
- Market Penetration — Indomie di Indonesia melakukan strategi ini dengan mengeluarkan berbagai promo bundling di toko retail modern.
- Market Development — Gojek yang awalnya hanya beroperasi di Jakarta kemudian melebarkan layanannya ke berbagai kota besar di Indonesia bahkan ke luar negeri.
- Product Development — Teh Botol Sosro meluncurkan varian rasa baru seperti teh hijau dan teh buah untuk pasar yang sama.
- Diversification — Samsung memulai bisnisnya dari produk makanan, kemudian berkembang ke elektronik, smartphone, dan teknologi canggih lainnya.
Kaitan Ansoff Matrix dengan Lembaga Pelatihan Bisnis
Sebagai lembaga pelatihan bisnis, memahami dan mengajarkan Ansoff Matrix kepada peserta sangat penting. Dalam dunia bisnis modern, tidak cukup hanya punya produk yang bagus. Bisnis harus memiliki:
- Peta jalan pertumbuhan yang terukur.
- Strategi ekspansi yang teruji.
- Analisis risiko dalam pengembangan produk dan pasar.
Di Nextup ID, kami menyediakan pelatihan Ansoff Matrix berbasis studi kasus yang interaktif, di mana peserta akan:
- Mempelajari teori dan prinsip dasar Ansoff Matrix.
- Menganalisis bisnis mereka sendiri menggunakan model ini.
- Mendapatkan feedback dan rekomendasi strategi dari instruktur berpengalaman.
Penutup: Ansoff Matrix, Peta Strategis Pertumbuhan Bisnis Anda
Mengembangkan bisnis bukan sekadar mengikuti insting atau ikut-ikutan tren pasar. Setiap keputusan bisnis yang melibatkan pertumbuhan harus berbasis data, analisis, dan strategi. Ansoff Matrix menjadi alat yang sangat tepat untuk membantu pengambilan keputusan ini.
Jika Anda seorang pelaku usaha, manajer, atau bahkan mahasiswa yang sedang belajar bisnis, memahami Ansoff Matrix akan membuka wawasan tentang bagaimana perusahaan bisa berkembang dari kecil menjadi besar, dari lokal menjadi nasional, bahkan global. Jangan biarkan bisnis Anda berjalan tanpa arah! Rencanakan pertumbuhan bisnis Anda hari ini juga dengan pemahaman yang kuat tentang Ansoff Matrix.
Ingin memahami strategi pertumbuhan bisnis secara mendalam? Daftarkan diri Anda dalam pelatihan “Ansoff Matrix for Business Growth” bersama Nextup ID, Anda akan belajar mengembangkan bisnis dengan lebih terukur, cerdas, dan minim risiko.
Pelatihan bisnis, Kursus strategi bisnis, Belajar Ansoff Matrix, Pelatihan pertumbuhan bisnis, Strategi pengembangan usaha, Materi pelatihan manajemen bisnis, Training bisnis untuk UMKM, Pelatihan bisnis startup, Cara mengembangkan bisnis, Kelas strategi bisnis online, Pelatihan bisnis terstruktur, Workshop bisnis pemula, Kursus pengembangan produk, Pelatihan market penetration, Strategi diversifikasi bisnis, Lembaga pelatihan bisnis profesional, Belajar strategi pengembangan pasar, Rencana pertumbuhan bisnis, Mentoring pengembangan bisnis, Strategi bisnis efektif untuk UMKM
Muhamad Arif Rahmat, adalah seorang owner bisnis digital, finalis beberapa kompetisi bisnis tingkat Nasional, sekaligus juga trainer yang senang berbagi mengenai tips wirausaha dan digital marketing.
Klik disini untuk kenal lebih dekat
by adminnextup | Apr 27, 2025 | Articles
Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif dan cepat berubah, manajemen waktu dan sumber daya menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan perusahaan. Setiap keputusan yang diambil dapat berdampak langsung pada keberhasilan atau kegagalan sebuah proyek. Untuk membantu mengelola prioritas dengan lebih efektif, banyak bisnis mulai menggunakan teknik MoSCoW Method dalam manajemen proyek dan pengambilan keputusan. Metode ini menawarkan kerangka kerja yang sederhana namun kuat untuk memisahkan tugas atau fitur berdasarkan urgensi dan kepentingan.
Pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana teknik MoSCoW dapat diterapkan dalam manajemen bisnis untuk meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan dan menjaga keseimbangan prioritas dalam mencapai tujuan jangka panjang.
Apa Itu MoSCoW Method?
MoSCoW Method adalah sebuah teknik prioritas yang digunakan untuk membantu tim dalam menentukan tingkat kepentingan sebuah tugas atau fitur dalam proyek, terutama dalam manajemen proyek, pengembangan produk, dan agile development.
Nama MoSCoW sendiri bukan merujuk pada nama kota di Rusia, melainkan akronim dari:
-
M — Must Have (Wajib ada)
-
S — Should Have (Sebaiknya ada)
-
C — Could Have (Boleh ada jika memungkinkan)
-
W — Won’t Have (Tidak akan ada untuk saat ini)
Penjelasan Setiap Kategorinya:
-
✅ Must Have
-
Fitur, tugas, atau kebutuhan yang sangat penting dan wajib diselesaikan agar proyek bisa berjalan.
-
Tanpa ini, produk tidak bisa dirilis atau proyek dianggap gagal.
-
Contoh: Jika membuat aplikasi pembayaran, fungsi input data kartu adalah hal yang wajib.
-
⚡️ Should Have
-
Sangat penting, tetapi tidak mutlak.
-
Jika tidak ada, produk masih bisa berjalan, tetapi dengan keterbatasan. Biasanya diprioritaskan setelah “Must Have”.
-
Contoh: Fitur pembayaran otomatis yang bisa ditunda jika waktu tidak mencukupi.
-
💡 Could Have
-
Fitur tambahan yang bagus jika ada, tetapi tidak terlalu penting.
-
Bisa ditunda tanpa mengganggu inti fungsionalitas produk.
-
Contoh: Tema gelap atau dark mode dalam aplikasi.
-
🚫 Won’t Have
-
Hal-hal yang disepakati tidak akan dikerjakan dalam periode proyek kali ini.
-
Bukan berarti tidak penting selamanya, hanya tidak prioritas saat ini.
-
Contoh: Integrasi dengan sistem pihak ketiga yang baru.

Pengelolaan Bisnis – Nextup ID
Mengapa Teknik MoSCoW Relevan dalam Manajemen Bisnis?
Setiap bisnis menghadapi tantangan dalam alokasi sumber daya, baik itu waktu, tenaga kerja, atau anggaran. Dalam situasi ini, teknik MoSCoW memberikan kerangka yang jelas untuk memisahkan apa yang benar-benar penting dari apa yang dapat ditunda atau dikesampingkan. Berikut beberapa alasan mengapa teknik ini sangat relevan bagi manajemen bisnis:
- Efisiensi Sumber Daya: Dalam manajemen proyek, tidak semua fitur atau tugas memiliki dampak yang sama terhadap keberhasilan proyek. MoSCoW membantu memastikan bahwa sumber daya difokuskan pada elemen yang paling kritis terlebih dahulu.
- Pengambilan Keputusan yang Lebih Cepat: Dengan menggunakan MoSCoW, pemilik bisnis dan manajer proyek dapat dengan cepat membuat keputusan berdasarkan prioritas yang telah disepakati, mengurangi waktu yang terbuang untuk debat panjang.
- Mengelola Harapan Pemangku Kepentingan: MoSCoW membantu manajemen bisnis mengelola ekspektasi klien, karyawan, atau pemegang saham dengan menunjukkan dengan jelas fitur atau tugas mana yang akan diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dan mana yang tidak.
- Fleksibilitas dalam Proyek: Dalam dunia bisnis yang dinamis, prioritas bisa berubah. MoSCoW memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan prioritas saat kondisi bisnis atau kebutuhan pelanggan berubah, tanpa mengganggu seluruh proyek.
Penerapan MoSCoW dalam Manajemen Bisnis
Mari kita lihat bagaimana MoSCoW dapat diterapkan secara praktis dalam beberapa aspek manajemen bisnis.
1. Pengembangan Produk Baru
Ketika sebuah perusahaan mengembangkan produk baru, ada berbagai fitur dan fungsi yang perlu dipertimbangkan. Tidak semua fitur memiliki tingkat kepentingan yang sama, dan sering kali ada keterbatasan sumber daya dalam hal waktu dan anggaran.
Dengan MoSCoW, tim pengembangan dapat memisahkan fitur-fitur yang harus ada agar produk bisa diluncurkan dengan sukses, fitur-fitur yang diinginkan tetapi bisa ditunda, dan fitur-fitur tambahan yang bisa dikesampingkan untuk versi produk selanjutnya.
Contoh:
- Must Have: Fitur inti yang diperlukan untuk menjalankan produk (misalnya, sistem pembayaran dalam aplikasi e-commerce).
- Should Have: Fitur tambahan yang meningkatkan pengalaman pengguna tetapi bisa ditunda jika diperlukan (misalnya, fitur ulasan pengguna).
- Could Have: Fitur opsional yang memberikan nilai tambah tetapi tidak berdampak besar pada peluncuran awal (misalnya, tema visual yang dapat disesuaikan).
- Won’t Have: Fitur yang akan dipertimbangkan untuk rilis masa depan (misalnya, integrasi media sosial).
2. Proyek Transformasi Digital
Transformasi digital adalah inisiatif besar yang sering kali melibatkan berbagai tugas dan departemen. Memastikan bahwa elemen-elemen yang paling kritis mendapatkan perhatian utama adalah kunci keberhasilan proyek ini. Dengan MoSCoW, manajer proyek dapat memprioritaskan bagian dari transformasi yang harus segera diselesaikan, seperti implementasi perangkat lunak CRM, dan menunda hal-hal yang bisa diatasi nanti, seperti pengembangan dashboard kustom.
Contoh:
- Must Have: Integrasi sistem inti dengan teknologi baru.
- Should Have: Pelatihan karyawan tentang penggunaan perangkat lunak baru.
- Could Have: Fitur tambahan pada sistem baru yang memberikan efisiensi operasional lebih tinggi.
- Won’t Have: Inisiatif digital tambahan yang akan dilakukan pada tahap berikutnya.
3. Manajemen Keuangan Perusahaan
Manajemen keuangan juga dapat mendapatkan manfaat dari penerapan teknik MoSCoW, terutama dalam hal pengalokasian anggaran dan perencanaan pengeluaran. Setiap perusahaan memiliki keterbatasan anggaran, sehingga sangat penting untuk menentukan pengeluaran mana yang sangat diperlukan dan mana yang bisa ditunda tanpa mengorbankan kelangsungan bisnis.
Contoh:
- Must Have: Biaya operasional inti (misalnya, gaji karyawan, biaya utilitas, pajak).
- Should Have: Investasi yang perlu dilakukan untuk pertumbuhan bisnis, tetapi tidak mendesak (misalnya, pembelian peralatan baru).
- Could Have: Pengeluaran opsional yang memberikan manfaat tambahan tetapi tidak kritis (misalnya, anggaran untuk rebranding).
- Won’t Have: Pengeluaran yang bisa dikesampingkan untuk saat ini (misalnya, ekspansi internasional yang bisa ditunda hingga tahun depan).
4. Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam pengelolaan SDM, MoSCoW bisa membantu dalam prioritas pengembangan karyawan, perekrutan, dan pelatihan. Setiap perusahaan memiliki keterbatasan dalam hal waktu dan anggaran untuk pelatihan karyawan. MoSCoW bisa membantu memutuskan pelatihan apa yang harus dilakukan segera dan pelatihan apa yang bisa ditunda.
Contoh:
- Must Have: Pelatihan wajib untuk keterampilan dasar atau kepatuhan terhadap regulasi.
- Should Have: Pelatihan tambahan untuk meningkatkan keterampilan yang sudah ada.
- Could Have: Pelatihan opsional untuk pengembangan karier jangka panjang.
- Won’t Have: Pelatihan yang tidak relevan untuk kebutuhan saat ini tetapi mungkin berguna di masa depan.

Pengelolaan Bisnis – Nextup ID
Keuntungan Menggunakan MoSCoW dalam Bisnis
- Pengelolaan Sumber Daya yang Lebih Baik: Dengan memprioritaskan tugas dan fitur, perusahaan dapat menggunakan waktu, tenaga kerja, dan anggaran secara lebih efisien, memastikan bahwa hal-hal paling penting diselesaikan terlebih dahulu.
- Menghindari Proyek yang Berlarut-larut: Banyak proyek gagal karena tim terjebak pada tugas-tugas yang kurang penting. MoSCoW mencegah hal ini dengan menjaga fokus pada elemen “Must Have”.
- Fleksibilitas dalam Pengambilan Keputusan: Teknik ini memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan prioritas sesuai dengan perubahan kondisi bisnis atau pasar, sambil tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.
- Meningkatkan Kepuasan Pemangku Kepentingan: Dengan memiliki struktur prioritas yang jelas, semua pihak yang terlibat dalam proyek akan memiliki pemahaman yang sama tentang apa yang menjadi prioritas utama dan apa yang bisa ditunda, sehingga meminimalkan ketidakpuasan dan konflik.
Kesimpulan
MoSCoW Method adalah teknik yang sangat berguna bagi manajemen bisnis, terutama dalam hal pengambilan keputusan, alokasi sumber daya, dan manajemen proyek. Dengan memberikan struktur yang jelas tentang apa yang harus diprioritaskan, teknik ini membantu perusahaan mencapai tujuan mereka dengan lebih efisien dan efektif. Dalam lingkungan bisnis yang dinamis dan penuh tekanan, MoSCoW memberikan solusi yang praktis untuk mengelola proyek dengan cerdas dan terarah. Bila anda membutuhkan kami dalam pengelolaan bisnis yang baik, Nextup ID akan dengan senang hati berbagi dengan anda!
Muhamad Arif Rahmat, adalah seorang owner bisnis digital, finalis beberapa kompetisi bisnis tingkat Nasional, sekaligus juga trainer yang senang berbagi mengenai tips wirausaha dan digital marketing.
Klik disini untuk kenal lebih dekat
by adminnextup | Apr 22, 2025 | Articles
Kepemimpinan merupakan salah satu pilar utama dalam kesuksesan sebuah organisasi. Tidak hanya dalam skala perusahaan besar, tapi juga bisnis UMKM, komunitas, bahkan dalam keluarga sekalipun. Salah satu teori kepemimpinan paling berpengaruh dan mudah diterapkan dalam berbagai level bisnis dikembangkan oleh seorang penulis, pembicara, dan pelatih kepemimpinan kelas dunia: John C. Maxwell.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap teori Maxwell yang terkenal dengan sebutan “5 Levels of Leadership” atau 5 Tingkatan Kepemimpinan, dilengkapi contoh penerapan dalam dunia bisnis.

Leadership Training for SME – Nextup ID
Apa Itu 5 Tingkatan Kepemimpinan John C. Maxwell?
Maxwell percaya bahwa kepemimpinan bukanlah jabatan, melainkan proses. Seseorang bisa berada di posisi “atas” dalam sebuah organisasi tanpa benar-benar menjadi pemimpin sejati. Itulah sebabnya ia membagi kepemimpinan dalam lima tingkatan yang saling bertingkat dan berkaitan.
Kelima tingkatan ini mencerminkan bagaimana seorang pemimpin mengembangkan pengaruh dan kepercayaan dari bawahannya. Mari kita uraikan satu per satu.
Tingkat 1: Position (Jabatan)
Pada level ini, seseorang dihormati hanya karena ia memiliki jabatan formal. Posisi sebagai manajer, supervisor, direktur, atau pemilik bisnis memberi “kewenangan administratif”, namun belum tentu memberikan pengaruh yang sesungguhnya.
Ciri khas pemimpin level 1:
- Orang mengikuti karena harus.
- Keputusan diikuti karena takut sanksi atau aturan.
- Pengaruh dibangun oleh struktur, bukan hubungan.
Contoh dalam bisnis: Seorang supervisor baru diangkat di pabrik roti, namun tim produksi belum mengenalnya dengan baik. Mereka mengikuti instruksi karena statusnya sebagai atasan, bukan karena respek personal.
Tingkat 2: Permission (Izin)
Pada level kedua, pemimpin mulai mendapatkan kepercayaan dari orang lain karena hubungan yang positif, bukan semata karena jabatan.
Ciri khas pemimpin level 2:
- Orang mengikuti karena ingin, bukan karena harus.
- Pemimpin membangun komunikasi yang sehat dan mendengar pendapat tim.
- Hubungan emosional tumbuh, menciptakan lingkungan kerja nyaman.
Contoh dalam bisnis: Manajer pemasaran yang selalu terbuka mendengarkan ide tim. Ketika ia meminta tim mengikuti arahan strategi, semua anggota melakukannya dengan antusias, karena mereka merasa dihargai.
Tingkat 3: Production (Hasil)
Pada level ketiga, pengaruh seorang pemimpin tumbuh karena hasil kerja nyata. Orang mulai percaya karena melihat prestasi dan dampak kepemimpinannya.
Ciri khas pemimpin level 3:
- Orang mengikuti karena ia membawa hasil positif.
- Kepemimpinan menjadi teladan: pemimpin tidak hanya bicara, tapi mengeksekusi.
- Fokus pada pencapaian target bersama.
Contoh dalam bisnis: CEO startup berhasil meningkatkan omzet perusahaan dalam 6 bulan berkat inisiatif inovasi produk. Tim semakin yakin bahwa arahan sang pemimpin terbukti efektif, sehingga semakin solid mengikuti visinya.
Tingkat 4: People Development (Pengembangan Orang Lain)
Pemimpin yang hebat tidak hanya membimbing, tapi juga melatih timnya agar tumbuh menjadi pemimpin baru. Level ini menjadi tolok ukur seorang pemimpin visioner.
Ciri khas pemimpin level 4:
- Fokus menciptakan pemimpin lain.
- Memberikan pelatihan, mentoring, dan kepercayaan penuh.
- Investasi waktu dan tenaga untuk mengembangkan SDM.
Contoh dalam bisnis: Manajer operasional yang secara aktif melatih staf untuk mengambil peran sebagai koordinator shift, mengarahkan proyek-proyek kecil, hingga akhirnya staf tersebut siap promosi menjadi asisten manajer.
Tingkat 5: Pinnacle (Puncak)
Tingkat kelima adalah puncak dari kepemimpinan, di mana pengaruh seseorang sudah melekat pada karakter dan warisan kepemimpinannya. Orang mengikuti pemimpin level 5 bukan karena jabatan, bukan hanya karena hubungan, hasil, atau mentoring, tetapi karena siapa dia dan apa yang dia wakili.
Ciri khas pemimpin level 5:
- Memiliki legacy (warisan) kepemimpinan.
- Menginspirasi generasi berikutnya, bahkan ketika tidak lagi menjabat.
- Menciptakan budaya organisasi yang positif dan berkelanjutan.
Contoh dalam bisnis: Seorang pendiri perusahaan yang setelah pensiun tetap menjadi inspirasi bagi budaya perusahaan, prinsip manajemen, dan filosofi bisnis yang dipegang teguh oleh generasi penerus.

Leadership Training for SME – Nextup ID
Mengapa Teori Maxwell Relevan untuk Dunia Bisnis?
- Membentuk Budaya Organisasi Positif Kepemimpinan berbasis hubungan dan hasil membantu membangun tim yang saling mendukung.
- Mendorong Produktivitas Pemimpin yang berhasil naik ke level 3-4 akan memotivasi tim untuk bekerja lebih efisien dan kolaboratif.
- Mengurangi Turnover Karyawan Hubungan yang sehat antara pemimpin dan anggota tim membuat loyalitas meningkat.
- Suksesi Lebih Lancar Pengembangan SDM di level 4 memastikan perusahaan tidak kekurangan pemimpin berkualitas di masa depan.
Studi Kasus: Penerapan 5 Levels di Bisnis UMKM
Misalkan sebuah usaha bakery rumahan berkembang pesat hingga membuka 3 cabang di kota berbeda. Pemilik awalnya berada di level Position, lalu berproses:
- Level 2: mengenal karyawan, membangun komunikasi personal.
- Level 3: membuktikan strategi marketing dan kualitas produk meningkatkan omzet.
- Level 4: mengembangkan asisten toko menjadi store leader.
- Level 5: setelah 5 tahun, sistem dan budaya kerja bakery tersebut tetap hidup, meskipun pemilik sudah mulai tidak turun tangan langsung.
Inilah bukti bahwa teori Maxwell bukan hanya teori, tapi bisa diimplementasikan oleh pebisnis dari skala kecil hingga besar.
Cara Menerapkan 5 Levels of Leadership dalam Bisnis Anda
- Evaluasi Posisi Anda Saat Ini Mulailah dengan jujur: di level berapa Anda dalam hubungan dengan tim?
- Bangun Kepercayaan Lewat Hubungan Dengarkan karyawan, kenali kebutuhan mereka, bangun rasa aman.
- Fokus pada Hasil Buktikan keputusan Anda efektif dengan membawa hasil positif.
- Mentoring Tim Secara Aktif Jangan takut “melahirkan” pemimpin baru di tim Anda.
- Bangun Legacy Bekerjalah dengan visi jangka panjang dan tinggalkan warisan sistem yang kuat.
Kesimpulan
Teori kepemimpinan John C. Maxwell membuka cara pandang baru tentang peran pemimpin dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan bukan semata soal jabatan, tetapi tentang bagaimana kita mempengaruhi, melayani, membimbing, dan menginspirasi orang lain.
Bagi para pelaku bisnis, terutama UMKM, memahami dan menerapkan teori ini akan membuat perjalanan usaha Anda lebih stabil, tim lebih solid, dan pertumbuhan bisnis menjadi berkelanjutan. Siap untuk naik level sebagai pemimpin? Prosesnya mungkin panjang, tapi hasilnya akan sangat layak untuk diperjuangkan.
Tertarik belajar lebih lanjut soal kepemimpinan, bisnis, dan pengembangan tim?
💬 Hubungi Nextup ID untuk info pelatihan bisnis dan leadership yang siap membantu Anda naik ke level kepemimpinan berikutnya! Klik disini untuk menjadwalkan training anda bersama kami!
Pelatihan Leadership, Training Leadership, Pelatihan Kepemimpinan, Kursus Leadership, Pengembangan skill kepemimpinan, Training soft skill untuk leader, Manfaat pelatihan leadership, Pelatihan kepemimpinan untuk karyawan, Program pengembangan leadership, Cara meningkatkan kemampuan leadership, Contoh pelatihan kepemimpinan, Leadership training terbaik di Indonesia, Materi pelatihan leadership, Skill yang dibutuhkan seorang pemimpin, Training team building dan leadership, Modul pelatihan leadership, Coaching dan mentoring leadership, Pelatihan leadership online, Workshop kepemimpinan
pelatihan leadership, training leadership, kursus kepemimpinan, pelatihan kepemimpinan, program pengembangan leadership, pelatihan leadership untuk manajer, pelatihan kepemimpinan untuk supervisor, leadership training Indonesia
Muhamad Arif Rahmat, adalah seorang owner bisnis digital, finalis beberapa kompetisi bisnis tingkat Nasional, sekaligus juga trainer yang senang berbagi mengenai tips wirausaha dan digital marketing.
Klik disini untuk kenal lebih dekat
by adminnextup | Apr 18, 2025 | Articles
Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, banyak pelaku usaha mencari strategi terbaik untuk memenangkan pasar. Salah satu konsep yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dan kepemimpinan adalah Golden Circle yang diperkenalkan oleh Simon Sinek dalam bukunya Start with Why. Konsep ini membantu perusahaan memahami bagaimana cara membangun bisnis yang menginspirasi, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan meraih kesuksesan jangka panjang.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Golden Circle dalam bisnis, bagaimana cara menerapkannya, serta contoh nyata dari perusahaan yang sukses menggunakan strategi ini. Jika Anda seorang pengusaha atau pemilik bisnis, pemahaman tentang strategi bisnis Simon Sinek dapat membantu Anda mengembangkan strategi yang lebih efektif dan meningkatkan daya saing di pasar.
Apa Itu Golden Circle?
Golden Circle adalah model yang menjelaskan bagaimana perusahaan dan individu yang paling sukses beroperasi dari dalam ke luar, dimulai dengan WHY (mengapa), lalu HOW (bagaimana), dan akhirnya WHAT (apa). Struktur ini terdiri dari tiga lapisan utama:
1. WHY (Mengapa?)
WHY adalah alasan mendasar mengapa bisnis Anda ada di dunia ini. Ini berkaitan dengan visi, misi, dan nilai yang Anda pegang. Pelanggan lebih tertarik pada bisnis yang memiliki WHY yang jelas dan inspiratif. Bisnis yang memiliki WHY yang kuat lebih mudah menarik perhatian dan membangun hubungan emosional dengan pelanggan.
Contoh: Apple memiliki WHY yaitu “menantang status quo dan berpikir berbeda”. Hal ini membuat pelanggan merasa lebih terhubung dengan brand mereka. WHY yang kuat memungkinkan Apple menjadi lebih dari sekadar perusahaan teknologi; mereka menjadi simbol inovasi dan kreativitas.
2. HOW (Bagaimana?)
HOW adalah strategi atau cara unik yang digunakan untuk mencapai WHY Anda. Ini bisa berupa metode bisnis, inovasi, atau nilai yang Anda pegang dalam menjalankan bisnis. HOW adalah pembeda yang menjadikan bisnis Anda lebih unggul dibandingkan kompetitor.
Contoh: Apple menerapkan HOW dengan menciptakan desain produk yang elegan, inovatif, dan mudah digunakan. Selain itu, Apple selalu menjaga ekosistem produk yang saling terintegrasi, sehingga pengguna mendapatkan pengalaman yang konsisten dan nyaman.
3. WHAT (Apa?)
WHAT adalah produk atau layanan yang Anda tawarkan kepada pelanggan. Sebagian besar bisnis hanya fokus pada WHAT tanpa memperhatikan WHY mereka, sehingga sulit membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.
Contoh: Apple menjual iPhone, MacBook, dan layanan digital. Namun, produk ini hanyalah hasil akhir dari WHY dan HOW mereka.

Diagram Golden Circle oleh Simon Sinek untuk strategi bisnis
Mengapa Memulai dari WHY Penting dalam Bisnis?
Menurut Simon Sinek, bisnis yang dimulai dengan WHY memiliki peluang lebih besar untuk sukses dan mendapatkan loyalitas pelanggan yang lebih kuat. Beberapa alasan mengapa WHY penting dalam bisnis:
1. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan
- Pelanggan lebih tertarik pada bisnis yang memiliki visi yang jelas.
- Brand dengan WHY yang kuat cenderung memiliki pelanggan yang lebih setia.
- Konsumen cenderung kembali dan merekomendasikan bisnis yang mereka rasakan memiliki nilai dan misi yang sejalan dengan mereka.
2. Membedakan Bisnis dari Kompetitor
- Dalam industri yang kompetitif, WHY yang kuat bisa menjadi keunggulan.
- Contoh: Tesla bukan hanya perusahaan mobil listrik, tetapi mereka memiliki WHY “mempercepat transisi dunia ke energi berkelanjutan”.
- Dengan WHY yang jelas, pelanggan lebih mudah mengidentifikasi perbedaan antara bisnis Anda dan kompetitor.
3. Memotivasi Karyawan dan Tim
- Karyawan lebih bersemangat bekerja di perusahaan yang memiliki visi yang jelas.
- Perusahaan dengan WHY yang kuat lebih mudah menarik talenta terbaik.
- Karyawan yang memahami dan percaya pada WHY perusahaan akan bekerja dengan lebih dedikasi dan produktivitas tinggi.
Cara Menerapkan Golden Circle dalam Bisnis
Berikut adalah langkah-langkah menerapkan Golden Circle agar bisnis Anda lebih sukses:
1. Temukan WHY Bisnis Anda
Untuk menemukan WHY, tanyakan beberapa pertanyaan berikut:
- Apa alasan utama saya memulai bisnis ini?
- Masalah apa yang ingin saya selesaikan dengan bisnis ini?
- Apa dampak jangka panjang yang ingin saya berikan kepada pelanggan?
Contoh: Jika Anda memiliki bisnis kopi, WHY Anda bisa jadi: “Menyediakan kopi berkualitas tinggi yang mendukung petani lokal dan menciptakan pengalaman minum kopi yang lebih bermakna.”
2. Tentukan HOW (Strategi Bisnis Anda)
Beberapa cara untuk menentukan HOW dalam bisnis Anda:
- Gunakan bahan baku berkualitas tinggi.
- Berikan layanan pelanggan terbaik.
- Kembangkan produk inovatif.
- Pastikan pengalaman pelanggan selalu positif dan menyenangkan.
3. Definisikan WHAT (Produk atau Layanan Anda)
WHAT adalah hasil akhir dari WHY dan HOW Anda.
Contoh:
- Apple: iPhone, MacBook, iPad.
- Nike: Sepatu olahraga, pakaian atletik.
- Tesla: Mobil listrik, baterai rumah tangga.
Jika Anda memahami WHY dan HOW, produk Anda akan lebih menarik bagi pelanggan dan memiliki keunggulan dibandingkan kompetitor

Diagram Golden Circle oleh Simon Sinek untuk strategi bisnis
Contoh Bisnis Sukses dengan Golden Circle
1. Apple
- WHY: Menantang status quo dan berpikir berbeda.
- HOW: Membuat produk dengan desain elegan dan mudah digunakan.
- WHAT: iPhone, MacBook, iPad.
2. Nike
- WHY: Menginspirasi atlet di seluruh dunia untuk mencapai potensi terbaiknya.
- HOW: Menggunakan teknologi inovatif dalam desain sepatu dan pakaian olahraga.
- WHAT: Sepatu, pakaian, dan perlengkapan olahraga.
3. Tesla
- WHY: Mempercepat transisi dunia ke energi berkelanjutan.
- HOW: Mengembangkan kendaraan listrik dengan teknologi canggih.
- WHAT: Mobil listrik, baterai rumah tangga, panel surya.
Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Menerapkan Golden Circle
- Hanya Fokus pada WHAT
- Jangan hanya menjual produk tanpa WHY yang jelas.
- Tidak Konsisten dengan WHY
- WHY harus menjadi landasan dalam setiap keputusan bisnis.
- Mengabaikan Peran Karyawan dalam WHY
- Karyawan yang memahami WHY akan lebih termotivasi dalam bekerja.
Kesimpulan
Golden Circle adalah strategi yang efektif bagi pelaku usaha yang ingin meningkatkan bisnisnya. Dengan memahami WHY, HOW, dan WHAT, Anda bisa membangun bisnis yang lebih kuat dan memiliki daya saing yang tinggi.
Jika Anda ingin menerapkan Golden Circle dalam bisnis Anda, mulailah dengan menemukan WHY yang kuat dan komunikasikan secara jelas kepada pelanggan dan tim Anda. Dengan begitu, bisnis Anda akan berkembang dan menciptakan dampak positif dalam jangka panjang. Kami tim Nextup ID dengan senang hati akan menemani anda untuk meningkatkan bisnis anda! 🚀
Golden Circle, strategi bisnis, Simon Sinek, dan meningkatkan bisnis, model bisnis Golden Circle, konsep Golden Circle dalam bisnis, pentingnya WHY dalam bisnis, cara menerapkan Golden Circle.
Muhamad Arif Rahmat, adalah seorang owner bisnis digital, finalis beberapa kompetisi bisnis tingkat Nasional, sekaligus juga trainer yang senang berbagi mengenai tips wirausaha dan digital marketing.
Klik disini untuk kenal lebih dekat
by adminnextup | Apr 14, 2025 | Articles
Bisnis kopi di Indonesia telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan berkembangnya budaya minum kopi, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z, peluang untuk membangun usaha di sektor ini semakin menjanjikan. Kedai kopi lokal semakin menjamur, baik yang berbasis konsep gerai kecil (grab-and-go) hingga yang berfokus pada pengalaman kafe yang lebih nyaman dan kekinian.
Namun, seperti halnya bisnis lainnya, memulai bisnis kopi membutuhkan strategi yang jelas dan inovatif. Artikel ini akan membahas tentang dinamika bisnis kopi di Indonesia, faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilannya, dan strategi bisnis yang dapat diterapkan.
Tren Kopi di Indonesia
- Es Kopi Susu Es kopi susu dengan gula aren adalah salah satu tren terbesar yang mendorong ledakan bisnis kopi di Indonesia. Kopi dengan rasa yang lebih ringan dan manis ini lebih mudah diterima oleh kalangan muda yang mungkin belum terbiasa dengan rasa kopi yang pekat.
- Kopi dengan Cita Rasa Lokal Banyak pengusaha kopi mulai menawarkan minuman dengan sentuhan cita rasa lokal, seperti kopi yang dipadukan dengan bahan khas Indonesia seperti pandan, kelapa, dan jahe. Hal ini tidak hanya menambah variasi produk tetapi juga membangun rasa kebanggaan terhadap produk lokal.
- Kopi Premium dan Specialty Coffee Di kalangan pecinta kopi serius, ada minat yang meningkat pada kopi premium dan specialty coffee. Kopi jenis ini menonjolkan biji kopi yang ditanam di daerah tertentu dengan metode pengolahan yang lebih kompleks. Kopi specialty biasanya ditawarkan dengan harga lebih tinggi namun memiliki pasar yang loyal.
- Model Bisnis Waralaba Bisnis kopi juga berkembang pesat melalui model waralaba. Banyak pemain besar di sektor ini, seperti Kopi Kenangan dan Janji Jiwa, memanfaatkan model bisnis ini untuk ekspansi cepat, yang memungkinkan mereka membuka ratusan gerai dalam waktu singkat.

Bisnis Kopi – Nextup ID
Strategi Bisnis Kopi
1. Menentukan Target Pasar yang Tepat
Sebelum memulai bisnis kopi, penting untuk menentukan siapa target pasar Anda. Bisnis kopi memiliki berbagai segmen pasar, mulai dari mahasiswa yang mencari kopi dengan harga terjangkau, pekerja kantoran yang membutuhkan kopi cepat (grab-and-go), hingga pecinta kopi premium yang menghargai kualitas rasa dan pengalaman menikmati kopi.
Contoh Strategi:
- Kopi Susu Kekinian: Targetkan pasar milenial dengan harga yang terjangkau, kemasan menarik, dan rasa yang cocok untuk selera muda.
- Specialty Coffee: Fokus pada konsumen yang lebih peduli pada kualitas biji kopi, proses pembuatan, dan pengalaman menikmati kopi yang lebih eksklusif.
2. Inovasi Produk
Inovasi dalam produk adalah kunci untuk membedakan bisnis kopi Anda dari pesaing. Mengikuti tren kopi seperti es kopi susu bisa menjadi langkah awal yang baik, namun tetap penting untuk terus berinovasi dengan memperkenalkan produk baru. Menawarkan berbagai varian rasa atau bahkan menggabungkan elemen tradisional dengan modern bisa menjadi pembeda yang kuat.
Contoh Strategi:
- Menawarkan kopi dengan cita rasa lokal seperti kopi dengan pandan atau jahe, yang memberi konsumen pilihan berbeda dari kopi susu biasa.
- Mengembangkan produk kopi cold brew atau nitro coffee, yang masih menjadi tren di kalangan penikmat kopi yang mencari sensasi baru.
3. Memilih Lokasi yang Strategis
Lokasi bisnis kopi sangat mempengaruhi volume penjualan. Lokasi di pusat kota, dekat perkantoran, kampus, atau tempat wisata merupakan lokasi yang ideal untuk bisnis kopi. Gerai yang kecil namun terletak di tempat strategis akan sangat menghemat biaya sewa namun tetap bisa menarik banyak konsumen.
Contoh Strategi:
- Gerai kecil di dekat kampus untuk menjangkau mahasiswa dengan harga yang terjangkau.
- Kios grab-and-go di pusat perkantoran, di mana pekerja kantoran sering mencari kopi cepat sebelum bekerja atau saat istirahat makan siang.
4. Mengoptimalkan Digitalisasi dan Teknologi
Dalam era digital, memanfaatkan teknologi adalah keharusan bagi setiap bisnis, termasuk bisnis kopi. Pemasaran melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok adalah cara yang efektif untuk menjangkau konsumen. Selain itu, kehadiran di aplikasi pesan antar seperti GoFood dan GrabFood memungkinkan bisnis Anda untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus memiliki gerai fisik di setiap lokasi.
Contoh Strategi:
- Aplikasi pemesanan sendiri: Membangun aplikasi khusus untuk pesanan online, di mana pelanggan dapat memesan dan membayar tanpa harus antre di toko fisik.
- Kolaborasi dengan influencer: Menggunakan influencer lokal untuk memperkenalkan produk baru atau promosi khusus.
5. Menggunakan Model Bisnis Waralaba
Model bisnis waralaba adalah salah satu strategi yang terbukti sukses dalam mempercepat ekspansi bisnis kopi di Indonesia. Dengan sistem ini, pemilik bisnis kopi bisa memperluas cakupan tanpa harus mengelola setiap gerai secara langsung. Namun, model ini membutuhkan standar operasional yang ketat untuk menjaga kualitas produk di setiap gerai.
Contoh Strategi:
- Franchise Kopi Kenangan: Model waralaba ini mempermudah mitra untuk membuka gerai dengan standar yang sama, menjaga kualitas, dan menargetkan konsumen dengan cita rasa kopi susu yang khas.
- Waralaba Es Teh Indonesia: Meskipun berfokus pada es teh, model bisnisnya yang agresif dengan franchise juga dapat diaplikasikan pada bisnis kopi.

Bisnis Kopi – Nextup ID
6. Harga Kompetitif dengan Kualitas yang Konsisten
Harga yang kompetitif akan menjadi daya tarik utama bagi banyak konsumen, terutama bagi bisnis kopi yang menargetkan kelas menengah ke bawah. Namun, kualitas kopi harus tetap terjaga untuk mempertahankan loyalitas konsumen. Menjaga keseimbangan antara harga yang terjangkau dan kualitas produk yang baik adalah strategi yang krusial.
Contoh Strategi:
- Janji Jiwa menawarkan harga yang sangat terjangkau, namun tetap konsisten dalam kualitas rasa kopi. Dengan begitu, mereka bisa menarik pelanggan dari berbagai kalangan.
7. Layanan Langganan (Subscription)
Strategi langganan kopi dapat membantu meningkatkan loyalitas konsumen. Dengan layanan ini, pelanggan dapat membayar biaya bulanan untuk mendapatkan kopi setiap hari dengan harga yang lebih murah. Ini menciptakan pendapatan yang stabil dan memastikan bahwa pelanggan tetap kembali setiap hari.
Contoh Strategi:
- Fore Coffee: Menerapkan sistem langganan bulanan di mana pelanggan bisa menikmati kopi harian dengan harga yang lebih murah, menciptakan loyalitas dan kenyamanan bagi pelanggan tetap.
8. Sustainability dan Dukungan Terhadap Produk Lokal
Kesadaran konsumen terhadap keberlanjutan (sustainability) semakin meningkat, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Dengan mendukung petani kopi lokal dan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, bisnis kopi dapat menarik konsumen yang peduli terhadap isu-isu ini.
Contoh Strategi:
- Tuku Kopi berkolaborasi dengan petani lokal dan mempromosikan produk yang berkelanjutan, menarik perhatian konsumen yang peduli pada dampak sosial dan lingkungan.
Bisnis kopi di Indonesia menawarkan peluang besar, terutama dengan meningkatnya konsumsi kopi di kalangan generasi muda. Namun, kesuksesan dalam bisnis ini tidak hanya ditentukan oleh tren sementara, melainkan oleh kemampuan untuk mengidentifikasi target pasar, inovasi produk, strategi harga, dan penggunaan teknologi. Selain itu, ekspansi yang cerdas melalui waralaba atau model grab-and-go dapat mempercepat pertumbuhan bisnis, sementara fokus pada kualitas dan konsistensi produk akan memastikan loyalitas pelanggan.
Di Indonesia, bisnis kopi telah mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan meningkatnya minat konsumen terhadap kopi, terutama di kalangan anak muda dan pekerja. Berikut adalah contoh-contoh bisnis kopi yang populer di Indonesia beserta strategi bisnis yang digunakan:
1. Kopi Kenangan
Kopi Kenangan adalah salah satu merek kopi yang berkembang pesat di Indonesia. Dengan konsep “grab-and-go,” Kopi Kenangan berhasil menarik perhatian banyak konsumen sejak didirikan pada 2017.
Strategi Bisnis Kopi Kenangan
- Model Bisnis Grab-and-Go: Kopi Kenangan mengusung konsep toko kecil tanpa tempat duduk, yang memudahkan konsumen untuk membeli kopi secara cepat. Strategi ini tidak hanya menghemat biaya operasional tetapi juga memungkinkan ekspansi yang lebih cepat karena tidak memerlukan ruang besar.
- Produk Kopi dengan Cita Rasa Lokal: Salah satu produk andalannya adalah kopi susu dengan gula aren yang sesuai dengan selera konsumen Indonesia. Ini menjadi ciri khas yang membedakan mereka dari banyak brand kopi lainnya. Mereka juga menawarkan berbagai minuman dengan cita rasa lokal lainnya.
- Teknologi dan Digitalisasi: Kopi Kenangan sangat aktif menggunakan teknologi dalam operasional mereka, terutama melalui aplikasi mobile. Aplikasi tersebut memungkinkan konsumen untuk memesan secara online, mengakses promosi, dan mendapatkan poin loyalitas. Selain itu, mereka bekerja sama dengan platform pesan antar seperti GoFood dan GrabFood.
- Ekspansi Cepat: Kopi Kenangan memanfaatkan pendanaan besar dari investor untuk melakukan ekspansi cepat di berbagai kota besar di Indonesia. Dengan strategi ini, mereka mampu membuka ratusan gerai dalam waktu yang relatif singkat.
- Branding dan Pemasaran Kreatif: Kopi Kenangan menggunakan kampanye pemasaran yang kreatif dan dekat dengan keseharian konsumen. Nama produk mereka seperti “Kopi Kenangan Mantan” dan “Kopi Kenangan Masa Lalu” menarik perhatian banyak konsumen karena unik dan relatable. Mereka juga aktif di media sosial untuk menarik minat generasi muda.
2. Fore Coffee
Fore Coffee adalah pemain baru di industri kopi yang mulai beroperasi pada tahun 2018. Merek ini cepat dikenal karena mengombinasikan kopi premium dengan teknologi modern.
Strategi Bisnis Fore Coffee
- Pengalaman Digital yang Kuat: Fore Coffee menempatkan teknologi sebagai salah satu inti dari strategi mereka. Mereka mengembangkan aplikasi yang memungkinkan konsumen untuk memesan kopi, memilih lokasi pengambilan, dan melakukan pembayaran dengan berbagai opsi. Selain itu, aplikasi mereka menawarkan fitur pelacakan pesanan secara real-time.
- Produk Berkualitas Premium: Fore Coffee fokus pada penggunaan biji kopi premium yang diolah oleh barista terlatih. Mereka menawarkan berbagai jenis minuman kopi mulai dari kopi hitam hingga kopi susu, dan juga beberapa varian non-kopi.
- Layanan Langganan Kopi: Salah satu inovasi menarik dari Fore Coffee adalah layanan langganan kopi, di mana konsumen bisa mendapatkan kopi setiap hari dengan harga lebih hemat melalui paket berlangganan bulanan. Ini menciptakan loyalitas konsumen dan memberikan kenyamanan bagi pelanggan tetap.
- Ekspansi melalui Kios Kecil dan Grab-and-Go: Mirip dengan Kopi Kenangan, Fore Coffee juga menggunakan strategi gerai kecil dengan konsep grab-and-go. Gerai-gerai mereka biasanya terletak di pusat perkantoran, mal, dan daerah padat penduduk.
- Kualitas dan Konsistensi: Fore Coffee menekankan pada kualitas dan konsistensi. Mereka bekerja sama dengan para petani kopi lokal untuk mendapatkan biji kopi terbaik dan melakukan roasting sendiri untuk menjaga standar rasa.
3. Janji Jiwa
Janji Jiwa merupakan salah satu pemain utama dalam bisnis kopi di Indonesia yang terkenal dengan slogan “Kopi Dari Hati.” Merek ini didirikan pada 2018 dan berhasil tumbuh dengan sangat cepat.
Strategi Bisnis Janji Jiwa
- Franchise Model: Salah satu strategi utama Janji Jiwa adalah model bisnis franchise. Dengan menggunakan sistem ini, mereka dapat dengan cepat memperluas jangkauan ke seluruh Indonesia. Ini membantu mereka membuka lebih dari 900 outlet hanya dalam beberapa tahun.
- Kopi Susu Sebagai Produk Andalan: Seperti Kopi Kenangan, Janji Jiwa juga fokus pada produk kopi susu yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Kopi susu mereka terkenal dengan rasa yang seimbang antara kopi, susu, dan gula aren.
- Harga Terjangkau: Janji Jiwa menjaga harga produknya tetap terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah. Harga yang kompetitif ini menjadi salah satu faktor keberhasilan mereka dalam meraih konsumen di berbagai lapisan masyarakat.
- Kolaborasi dengan Brand Lain: Janji Jiwa sering melakukan kolaborasi dengan merek lain untuk memperkuat branding mereka. Misalnya, mereka pernah bekerja sama dengan merek fashion lokal atau influencer untuk kampanye promosi.
- Media Sosial dan Influencer: Janji Jiwa sangat aktif di media sosial, terutama Instagram, di mana mereka sering mengadakan promo dan giveaway untuk menarik lebih banyak pelanggan. Mereka juga bekerja sama dengan influencer untuk mempromosikan produk mereka kepada audiens yang lebih luas.
4. Tuku Kopi
Tuku Kopi merupakan salah satu brand kopi lokal yang pertama kali mempopulerkan tren es kopi susu di Indonesia. Merek ini dimulai dari sebuah kedai kecil di Jakarta Selatan dan dengan cepat menjadi fenomena di dunia kopi.
Strategi Bisnis Tuku Kopi
- Produk yang Simpel dan Autentik: Tuku Kopi terkenal dengan produk yang sederhana namun berkualitas. Salah satu produk andalannya adalah Es Kopi Susu Tetangga, yang memiliki cita rasa kopi yang kuat dengan harga yang sangat terjangkau. Fokus pada kesederhanaan produk ini membuat mereka tetap konsisten dan mudah diingat oleh konsumen.
- Pertumbuhan Organik: Tidak seperti banyak brand kopi lain yang melakukan ekspansi agresif, Tuku Kopi lebih memilih pertumbuhan yang organik. Mereka hanya membuka beberapa gerai di lokasi strategis dengan fokus pada menjaga kualitas dan konsistensi produk.
- Kedekatan dengan Komunitas Lokal: Tuku Kopi memiliki hubungan yang erat dengan komunitas lokal. Mereka bekerja sama dengan petani kopi lokal untuk mendapatkan biji kopi terbaik dan sering mempromosikan konsep keberlanjutan dalam bisnis mereka.
- Pengalaman Konsumen yang Otentik: Tuku Kopi menciptakan suasana kedai yang hangat dan dekat dengan masyarakat sekitar. Merek ini tidak menonjolkan branding yang terlalu komersial, melainkan lebih fokus pada pengalaman konsumen yang autentik dan berkualitas.
Masing-masing bisnis kopi di Indonesia menggunakan strategi yang berbeda untuk memenangkan pasar. Kopi Kenangan dan Janji Jiwa mengandalkan ekspansi cepat melalui konsep grab-and-go dan franchise, sementara Fore Coffee fokus pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Tuku Kopi menonjolkan kesederhanaan produk dan pertumbuhan organik dengan mempertahankan kualitas tinggi.
Kunci kesuksesan dari bisnis kopi di Indonesia adalah:
- Inovasi Produk: Memahami selera konsumen lokal dan menciptakan produk yang sesuai, seperti kopi susu dengan gula aren.
- Ekspansi yang Efisien: Memanfaatkan model bisnis grab-and-go atau waralaba untuk memperluas jangkauan pasar dengan cepat.
- Penggunaan Teknologi: Aplikasi mobile dan layanan pesan antar menjadi elemen penting dalam memudahkan akses konsumen.
- Branding yang Kuat: Menciptakan identitas merek yang menarik dan relevan dengan target pasar.
- Harga Kompetitif: Menawarkan produk dengan harga yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.
Strategi-strategi ini memungkinkan merek-merek kopi tersebut bertahan dan berkembang pesat di pasar Indonesia yang sangat kompetitif. Tim Nextup ID berpengalaman dalam mendampingi pebisnis kopi di berbagai kegiatan baik dari instansi pemerintahan maupun swasta, jangan ragu untuk menghubungi kami untuk informasi lebih lengkap!