Mixue Tidak Menjual Es Krim? Strategi Bisnis di Balik Kesuksesannya | Nextup ID

Mengapa Banyak Orang Salah Memahami Kesuksesan Mixue?

Jika melihat antrean panjang di depan gerai Mixue, kebanyakan orang akan sampai pada kesimpulan yang sama.

“Mixue sukses karena es krimnya murah.”

Kesimpulan itu tidak sepenuhnya salah.

Tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Karena jika kesuksesan hanya ditentukan oleh harga murah, seharusnya banyak merek lain bisa melakukan hal yang sama.

Jika kesuksesan hanya ditentukan oleh es krim, seharusnya banyak pemain lama di industri ini tetap mendominasi pasar.

Namun kenyataannya tidak demikian.

Mixue tumbuh menjadi salah satu jaringan F&B terbesar di dunia dengan ribuan gerai yang tersebar di berbagai negara.

Dan menariknya, pertumbuhan itu tidak hanya terjadi di kota-kota besar.

Mixue hadir di kota kecil. Di pinggir jalan. Di dekat sekolah. Di dekat kampus. Di dekat perkantoran.

Seolah-olah mereka ada di mana-mana.

Saat itulah muncul pertanyaan yang lebih menarik.

Bagaimana mungkin sebuah bisnis es krim bisa tumbuh sebesar ini?

Jawabannya mungkin bukan karena es krimnya.

Jawabannya ada pada sistem bisnis yang dibangun di belakangnya.

Kisah yang Berawal dari Kesederhanaan

Banyak orang mengenal Mixue sebagai merek global.

Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan bisnis ini dimulai dari usaha kecil dengan modal yang sangat terbatas.

Pada awalnya, pendirinya hanya ingin menjual minuman dingin yang terjangkau bagi masyarakat.

Tidak ada strategi besar yang terlihat dari luar.

Tidak ada kampanye pemasaran miliaran rupiah.

Tidak ada gerai mewah.

Yang ada hanyalah satu tujuan sederhana.

Menjual produk yang bisa dibeli oleh sebanyak mungkin orang.

Dan justru dari kesederhanaan itulah lahir sebuah strategi yang kemudian menjadi kekuatan utama Mixue.

Mixue Tidak Menjual Es Krim

Kalimat ini mungkin terdengar aneh.

Karena jelas-jelas Mixue menjual es krim.

Namun jika kita melihat lebih dalam, yang membuat Mixue besar bukanlah es krimnya.

Mixue menjual sesuatu yang jauh lebih besar.

Mereka menjual:

  • aksesibilitas,
  • keterjangkauan,
  • kenyamanan,
  • konsistensi,
  • dan sistem.

Es krim hanyalah produknya.

Yang dibeli pelanggan sebenarnya adalah pengalaman mendapatkan sesuatu yang enak, mudah ditemukan, dan tidak membuat dompet terasa berat.

Mixue Menjual Harga yang Bisa Dijangkau Semua Orang

Banyak bisnis bermimpi menjadi premium.

Mereka ingin menjual produk mahal.

Mereka ingin margin besar.

Mereka ingin terlihat eksklusif.

Baca Juga:  Pentingnya Konsultasi Keuangan dalam Masa Persiapan Pensiun

Mixue memilih jalan yang berbeda.

Mereka memilih menjadi dekat dengan pasar terbesar.

Mereka memilih harga yang dapat dijangkau hampir semua kalangan.

Pelajar bisa membeli.

Mahasiswa bisa membeli.

Karyawan bisa membeli.

Keluarga juga bisa membeli.

Strategi ini sangat menarik.

Karena ketika banyak bisnis fokus pada keuntungan per transaksi, Mixue fokus pada jumlah transaksi.

Mereka memahami satu hal penting.

Lebih mudah menjual sesuatu yang terjangkau kepada jutaan orang daripada menjual sesuatu yang mahal kepada segelintir orang.

Mixue Menjual Frekuensi Pembelian

Dalam bisnis, ada dua cara meningkatkan pendapatan.

Cara pertama adalah menaikkan harga.

Cara kedua adalah meningkatkan frekuensi pembelian.

Mixue tampaknya lebih memilih strategi kedua.

Harga yang terjangkau membuat pelanggan tidak perlu berpikir panjang untuk membeli.

Hari ini membeli.

Besok membeli lagi.

Minggu depan membeli lagi.

Bulan depan kembali datang.

Dalam jangka panjang, pelanggan yang kembali berkali-kali jauh lebih bernilai dibanding pelanggan yang hanya membeli sekali.

Dan Mixue memahami prinsip ini dengan sangat baik.

Mixue Tidak Menjual Es Krim - Nextup ID

Mixue Tidak Menjual Es Krim – Nextup ID

Di Balik Gerai Mixue, Ada Sistem Distribusi yang Besar

Ketika melihat sebuah gerai Mixue, kita biasanya hanya melihat bagian depan.

Kita melihat kasir.

Kita melihat mesin es krim.

Kita melihat pelanggan.

Namun yang membuat bisnis ini kuat justru berada di belakang layar.

Yaitu distribusi.

Banyak bisnis gagal berkembang karena kualitas produknya tidak konsisten.

Gerai A berbeda dengan Gerai B.

Cabang satu berbeda dengan cabang lainnya.

Mixue berusaha mengatasi masalah ini dengan sistem distribusi yang terintegrasi.

Bahan baku.

Standar operasional.

Peralatan.

Semuanya dirancang agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang relatif sama di berbagai lokasi.

Dan konsistensi adalah salah satu aset paling berharga dalam bisnis.

Mixue Menjual Efisiensi Operasional

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pelaku usaha adalah membuat bisnis menjadi terlalu rumit.

Terlalu banyak menu.

Terlalu banyak proses.

Terlalu banyak variasi.

Akibatnya operasional menjadi sulit dikendalikan.

Mixue mengambil pendekatan yang berbeda.

Menu yang relatif sederhana.

Proses yang mudah dipelajari.

Sistem yang mudah direplikasi.

Semakin sederhana sebuah proses, semakin mudah bisnis tersebut berkembang.

Karena pada akhirnya, pertumbuhan membutuhkan kemampuan untuk menggandakan keberhasilan.

Dan sesuatu yang rumit sulit untuk digandakan.

Mixue Menjual Mesin Pertumbuhan Bernama Franchise

Banyak perusahaan tumbuh dengan membuka cabang sendiri.

Baca Juga:  UMKM Indonesia: Kekuatan Ekonomi Rakyat

Mixue memilih membangun jaringan melalui franchise.

Keuntungan model ini sangat besar.

Pertumbuhan bisa terjadi lebih cepat.

Investasi tidak sepenuhnya berasal dari perusahaan pusat.

Risiko dapat dibagi dengan mitra.

Namun franchise hanya akan berhasil jika sistem bisnisnya sudah kuat.

Karena tidak ada orang yang ingin membeli ketidakpastian.

Mereka membeli sistem yang sudah terbukti.

Dan di sinilah kekuatan Mixue.

Mereka tidak hanya menjual produk kepada pelanggan.

Mereka juga menjual peluang usaha kepada mitra.

Branding Mixue yang Sulit Dilupakan

Pernahkah Anda mendengar lagu Mixue?

Kemungkinan besar pernah.

Dan mungkin Anda masih mengingatnya sampai sekarang.

Inilah kekuatan branding.

Branding bukan sekadar logo.

Branding bukan sekadar warna.

Branding adalah kemampuan untuk menempati ruang tertentu di benak pelanggan.

Mixue memiliki karakter visual yang konsisten.

Maskot yang mudah dikenali.

Lagu yang mudah diingat.

Gerai yang mudah ditemukan.

Semua elemen tersebut bekerja bersama-sama membangun identitas yang kuat.

Dan dalam dunia yang penuh gangguan informasi, mudah diingat adalah keunggulan besar.

Mixue Memahami Perilaku Konsumen

Banyak bisnis gagal karena mencoba mengubah pasar.

Mixue justru membaca pasar.

Mereka memahami bahwa banyak pelanggan menginginkan tiga hal:

  • murah,
  • cepat,
  • mudah ditemukan.

Alih-alih memaksa pelanggan beradaptasi, mereka menyesuaikan model bisnis dengan kebutuhan pelanggan.

Dan sering kali, bisnis yang berhasil bukanlah yang paling inovatif.

Tetapi yang paling memahami perilaku konsumennya.

Pelajaran Penting untuk UMKM

Apa yang bisa dipelajari UMKM dari Mixue?

Sangat banyak.

Pertama, jangan hanya fokus pada produk.

Banyak pengusaha menghabiskan waktu memperbaiki produk.

Padahal pelanggan juga memperhatikan pengalaman.

Kedua, bangun sistem.

Karena bisnis yang bergantung sepenuhnya pada pemilik akan sulit berkembang.

Ketiga, miliki positioning yang jelas.

Mixue tidak berusaha menjadi premium.

Mereka tahu siapa pasar yang ingin dilayani.

Keempat, pikirkan repeat order.

Pelanggan yang kembali berkali-kali adalah aset yang sangat berharga.

Kelima, bangun brand yang mudah diingat.

Karena produk bisa ditiru.

Tetapi brand jauh lebih sulit ditiru.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pelaku Usaha

Menariknya, banyak bisnis kecil melakukan kebalikan dari apa yang dilakukan Mixue.

Mereka memiliki terlalu banyak produk.

Tidak memiliki positioning yang jelas.

Tidak memiliki standar operasional.

Tidak membangun brand.

Dan terlalu bergantung pada pemilik usaha.

Baca Juga:  Customer Relationship Management, Sudah Tau Belum?

Akibatnya bisnis sulit berkembang.

Karena ketika permintaan meningkat, sistemnya belum siap.

Di Balik Es Krim Murah, Ada Mesin Bisnis yang Besar

Ketika pelanggan membeli es krim Mixue seharga belasan ribu rupiah, yang terlihat hanyalah sebuah produk.

Namun di belakang produk itu terdapat banyak hal yang tidak terlihat.

Ada distribusi.

Ada branding.

Ada operasional.

Ada teknologi.

Ada sistem franchise.

Ada strategi positioning.

Ada pengelolaan rantai pasok.

Ada standar kualitas.

Semua elemen tersebut bekerja bersama menciptakan sebuah mesin bisnis yang mampu berkembang secara masif.

Dan sering kali, itulah yang membedakan bisnis besar dengan bisnis biasa.

Mixue Tidak Menjual Es Krim. Mixue Menjual Sebuah Sistem.

Ketika melihat antrean panjang di depan gerai Mixue, mudah untuk berpikir bahwa kesuksesan mereka berasal dari es krim murah.

Namun jika diamati lebih dalam, es krim hanyalah bagian yang terlihat di permukaan.

Di baliknya terdapat positioning yang jelas.

Distribusi yang kuat.

Branding yang konsisten.

Operasional yang efisien.

Dan sistem yang mampu direplikasi ribuan kali.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang bisa dipetik oleh setiap pengusaha.

Bisnis besar jarang dibangun hanya karena produknya.

Bisnis besar dibangun karena sistem yang membuat produk tersebut mampu menjangkau lebih banyak orang, melayani lebih banyak pelanggan, dan bertumbuh tanpa bergantung pada satu orang saja.

Karena pada akhirnya, pelanggan memang membeli es krim.

Tetapi yang membuat Mixue menjadi raksasa bisnis bukanlah es krimnya.

Melainkan sistem yang berada di belakang setiap es krim yang mereka jual.

Ingin Membangun Bisnis yang Tidak Hanya Bertahan, Tetapi Bertumbuh?

Pelajari strategi bisnis, branding, digital marketing, AI for Productivity, leadership, dan pengembangan UMKM bersama Nextup ID.

Kami menyediakan program pelatihan, workshop, coaching, dan pendampingan yang membantu individu, UMKM, perusahaan, dan organisasi membangun sistem bisnis yang lebih kuat, produktif, dan berkelanjutan.

Nextup ID
Learning Partner untuk Bisnis, SDM, dan Organisasi Masa Depan.

strategi bisnis Mixue, kesuksesan Mixue, franchise Mixue, bisnis es krim, pelajaran bisnis Mixue, branding Mixue, model bisnis Mixue, bisnis F&B, pengembangan bisnis, bisnis waralaba